Minggu, 13 Juli 2008

Tiada henti

Kala terik makin panas membakar
Tiba-tiba awan datang menggulung
Hitam pekat bak siluman bersarung
Hujan menderu basahi tanah berdebu

Saat tantangan makin menempa
Memaksa kita makin dewasa
Hingga kadang berfikir untuk berkata:
Mampukah kita?


Namun toh ternyata kita semua bisa melewatinya
Hingga makin terasa arti penting
Sebuah tanggung jawab

Ternyata kita takkan pernah berhenti belajar

(Sejenak rehat project H7038)

Senin, 07 Juli 2008

Surat Buat Wakil Rakyat















Iwan Fals ( Album Wakil Rakyat 1987 )

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana di gedung DPR

Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili

Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Dikantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke

Saudara dipilih bukan di lotere
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam juara he eh juara hahaha

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana di gedung DPR

Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Kemarin aku mendengar lagi lagu ini langsung dari seorang (mirip) Iwan Fals. Mirip suara dan idealismenya. Minimal wajah dan penampilannya berkata begitu. Entah apa alasan penyelenggara acara hari ini mengundang mereka jadi bintang utama. Biasanya yang tampil dalam acara serupa ini seperti bulan kemarin adalah para Nasyider yang berwajah sejuk bak pangeran dan tak brewokan. Two tumbs up for panitia.

Inilah lagu yang ga ada matinya, menurut kesimpulan sementara saya. Kami yang duduk bersila sambil melambai-lambai tangan hafal betul dan sangat menikmati lagu ini. Padahal sudah lagu ini hampir berusia 30 tahun.

Ada perasaan geli sekaligus kecut tapi kami begitu menikmatinya, hingga seorang "yang biasa bersafari" yang hadir hari itu digotong untuk "mengakui kebenaran lagu itu".

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”
Bravo Iwan Fals. Sebentar lagi lagu ini akan laris lagi sebagai pelipur rakyat yang tak berdaya. Selama Indonesia belum AMAN DAN SEJAHTERA lagu ini akan tetap abadi.

Minggu, 15 Juni 2008

Mars Kepanduan

Bangkitlah mujahid bangkitlah
Rapatkan barisan rapatkan
Ayunkanlah langkah perjuangan
Mati syahid atau hidup mulia

Siapkan dirimu siapkan
Gentarkan musuhmu gentarkan
Tak kan pernah usai pertarungan
Hingga ajal kan menjelang

Enyahkan rasa takut dan gentar
Walau raga kan meregang nyawa
Karna ALLAH tlah janjikan syurga
Untukmu mujahid setia

Melepas lelah usai Mukhayam.

Sabtu, 07 Juni 2008

Tangan kita

Aku sedih dan ingin marah
Mendengar penyakit bangsa ini
Banyak hutang dimana-mana
Banyak tangan asing dimana-mana
Banyak 'tikus' dimana-mana

Negeri ini butuh tangan kita

Tribut to Ust Nurmahmudi Ismail

Rabu, 04 Juni 2008





















Batam Dalam Kenangan

Suara Persaudaraan

Kulihat mentari bundar di langit Batam
Membara redup lembut tiada menyilaukan

Sebentuk siluat pepohonan dari hutan nan perawan

Getarkan hati akan keagungan Tuhan

Yang merindu pertemuan dengan Ar-Rohman


Nasyid ini pertama kali ku mendengarnya di awal-awal tarbiyah, dari seorang yang baik hati. Terdengar agak melo, sendu, jadul dan agak norak. Saat itu aku tidak biasa mendengar lagu dengan ritme yang demikian. Beberapa tahun berikutnya aku mulai akrab dengan nuansa seperti itu dan tidak merasa ganjil lagi. Sekian lama aku tak mendengar syair itu lagi. Belakangan saat tak sengaja mendengarnya, entah kenapa syair diatas mulai menggetarkan hati.

Dipagi itu nahgoya berseri
Di muka kuning kudapatkan rumah suci

Disana kulabuhkan sejenak dipesanggrahan hati

Sambil menganyam gaun rindu sanubari

Menguak takbir kebesaran Illahi
Nagoya dan Muka Kuning, ah sungguh ramai dikau.

Alloh Alloh Alloh
Pagi yang indah saat ku di sana

Alloh Alloh Alloh

Seindah ukhuwah yang menyala di dada


Ukhuwah...
Betapa bersyukur kita memiliki saudara di mana-mana
Saat berjumpa seolah telah lama kita saling berkenalan
Alloh...Allah...

Tribute to My-new-family

Batam is a small but busy island in Indonesia of 45km x 25km and nearly a million people, hundreds of multinational owned factories, towns, shopping centres and gateway to the Riau Islands.


Located only 20km from Singapore and 25km from Johor in Malaysia, Batam is Indonesia's equivalent to China's SEZ's (Special Economic Zones) - a place where the nation's economic planners test new economic policies and ideas. The island is an industrial hub with electronics factories, a large and growing ship repair industry and an even larger oil service sector. Quite a few expats head there for work, and pubs and golf courses have sprung up to serve them.
Most tourists, on the other hand, come from nearby Singapore . Unless you have a particular interest in these, you're better off going elsewhere, such as Batam's more resort-y neighbor Bintan or the peaceful capital city of the province Tanjung Pinang. (wikitravel.org)

Jumat, 23 Mei 2008

Jilbab Suci













Gadis kecil itu berjalan dengan santai di depan kami. Dia memakai baju dan celana agak tebal berwarna biru tua. Jilbab kecil putih menutupi kepala hingga dadanya. Kami (bersama Ikram, Pak John sekeluarga, Pak Tata dan anak gadis kecilnya) barusan pulang dari acara Milad PKS (20/05/08) di Lapangan Engku Putri, Batam Center.

Nama gadis kecil itu, Suci. Usianya baru 9 tahun dan masih duduk di kelas 2 SD Darul Gufron, Batam. Tubuhnya kurus tapi lincah. Di sekolah semua siswi diharuskan memakai jilbab, namun biasanya dilepas jika di rumah. Awalnya saya tidak menyadari salah satu kebiasaan istimewa anak itu hingga Ayahnya menceritakan kepada saya. Jika keluar rumah Suci selalu memakai jilbabnya. Bahkan jika buru-buru hendak keluar bermain diluar rumah dengan teman-temannya tak pernah lupa memakainya jilbabnya. Padahal ayahnya tak pernah memaksa untuk memakai jilbab.

Hari itu Ayahnya bercerita lagi sebuah kejadian tentang Suci yang membuat hatiku merinding. Suatu hari Suci marah kepada kawan mainnya lalu serta merta menempeleng kawannya itu. Ayahnya yang berada tidak jauh dari mereka, bertanya. ”Suci, kenapa kawannya ditempeleng?” Dengan bahasa pembelaan diri, Suci berujar, ”Dia menarik jilbab saya, kelihatan rambut saya, kan ini aurat Ayah.”. Masya Allah. Anak usia 9 tahun itu telah mengerti arti aurat dan memilki ghiroh keislaman seperti itu. Padahal menurut ayahnya, dia tidak pernah mendidiknya dengan sikap ekstrim seperti itu.

Inilah salah satu yang memberikan kesyukuran luar biasa dan semangat hidup buat Ayah Suci ditengah banyak ujian* dalam keluarga mereka. Anak itulah mungkin yang menjadi qurratu a’yun (penyejuk mata) bagi Ayahnya. ”Kalau begitu tempeleng saja”, ujar Ayahnya.

”Kak, mau kemana kak?” dia bertanya sambil melihat kearahku. “Mau singgah dulu ke rumah kak Ikram”. Dengan tersenyum kukucek perlahan kepala Suci yang ditutupi jilbab putih itu. Kami berpisah setelah sampai di persimpangan siang itu dan lelah dengan acara Milad seharian. Jilbab yang menutupi aurat anak kecil itu begitu suci, sesuci jiwanya.

Tribute to Pak Tata and his daughter, Suci.

Rabu, 21 Mei 2008

Film Sang Murabbi

Film "Sang Murabbi" Akan Segera Tayang


Sebuah film perjuangan seorang ustad yang rendah hati dan bersahaja. Kesederhanaan adalah hal yang kini mulai banyak hilang di tengah umat

Hidayatullah.com—Sebuah film yang bercerita tentang seorang guru bersahaja akan menjadi koleksi tontonan menarik umat Islam Indonesia. Film bertajuk "Sang Murabbi" ini menceritakan kisah seorang “pejuang dakwah” yang bersahaja.
Film yang disutradari oleh Zul Ardhia ini menampilkan bintang Irwan Rinaldi sebagai Ustadz Rahmat, Ummi Fida (diperankan oleh Astri Ivo) dan didukung beberapa bintang lain; Neno Warisman dan Afwan Izzis.

Syuting film ini dilakukan di beberapa kawasan. Diantaranya di Setu, Jakarta Timur. Menurut situs blog sangmurabbi, lokasi ini dipilih karena memiliki kemiripan dengan situasi Kuningan, Jakarta Selatan, di era 70-an akhir dan 80-an.
Pengambilan gambar juga dilakukan di lokasi di wilayah lain seperti Kampung Raden, Pondok Gede, dan Pondok Rangon.

Sebagaimana diketahui, film ini dicuplik dari perjalanan hidup almarhum Ustad Rahmat Abdullah. Almarhum dikenal sebagai seorang ustadz, "pejuang dakwah" dan guru aktivis PKS.
Ustadz Rahmat Abdullah, adalah putra Betawi yang lahir di Jakarta pada 3 Juli 1953. Almarhmum meninggal dunia tahun 2005 setelah terkena stroke ketika wudhu untuk mengerjakan sholat Magrib.

Selain dikenal sebagai mentor kader PKS, semasa hidup, almarhum pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro DPP PKS. Almarhum juga sempat menjadi anggota Komisi III DPR RI yang membidangi masalah hukum, HAM dan perundang-undangan.
Sebelum menjadi anggota DPR, almarhum aktif sebagai guru di beberapa sekolah, di antaranya Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda (1970), SD Islam Tarbitul Aulad (1971-1973), Madrasah Tsanawiyah (Mts) Rumah Pendidikan Islam (1981), Aliyah Pendidikan (1982-1984), pengajar Ma'had Dirasah Islamiyah Iqro (1993-1997) dan pengajar pendidikan Duru TK Islam Terpadu Iqro (1999).

Almarhum juga mendirikan Yayasan Islamic Center Iqro pada 1992. Di tahun 2000, dalam sebuah acara Seminar Nasional bertajuk “Tarbiyah di Era Baru” di Masjid UI, Kampus UI Depok, ustadz keturunan Betawi itu pernah disebut sebagai Syaikhut Tarbiyah.
Almarhum dikenal sebagai sosok pejuang da’wah yang sangat aktif memperkaya wawasan keilmuannya. Pendidikan formalnya hanya sampai madrasah aliyah plus setahun kuliah di LIPIA Jakarta. Tapi karena kegigihannya mencari ilmu dari beberapa halaqah, kiai dan kelahapannya membaca kitab, banyak orang mengakui kapasitas keilmuannya tak kalah dari rekan-rekannya yang bergelar doktor. Sejak tahun 1985 ia sudah sering berkunjung ke luar negeri dan keliling Indonesia, memenuhi undangan seminar, mudzakarah du’at, pelatihan kader, tabligh, dan sebagainya.
Selain itu ada satu hal yang tak dimiliki umumnya para dai, bahwa ia adalah rajin menulis.
Dalam sebuah wawancara eklusif dengan Majalah Suara Hidayatullah tahun 2001, almarhum menjawab secara jujur kritikan masyarakat tentang adanya sinyalemen kader-kader Tarbiyah yang cenderung mulai eksklusif.

“Betul, ada kalanya kopral dengan kopral berkelahi, tetapi mayor dan kolonel yang jadi atasannya biasa-biasa saja. Para jenderalnya pun saling ngobrol saja.
Kalau ada yang demikian yang saya lihat, saya mengingatkan kader-kader kita agar tidak boleh begitu. Karena sesungguhnya mereka bisa menjadi orang yang sangat dihargai masyarakat jika menggunakan cara-cara yang lebih santun,” begitu kutipnya.
“Makanya mereka disuruh mengaji ke mana-mana untuk menambah wawasan. Sehingga kalau ada kajian umum mereka datang ramai-ramai untuk memperkaya dari apa yang telah mereka dapatkan dalam kelompok-kelompok kecil itu,” tambahnya.
Itulah rekaman kisah seorang ustad rendah hati nan sederhana meski dipundaknya pernah banyak jabatan dan amanah.

Ada baiknya, masyarakat terutama para santrinya melihat ulang kesederhanaan dan kesahajaan sang guru (murabbi) itu. Menurut situs blog sangmurabbi, Film ini diperkirakan akan dilaunching bulan Juni 2008.

Potongan film ini bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?v=nrsIioV4bRs. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Minggu, 18 Mei 2008

Indah yang tersembunyi
















(Klik untuk memperbesar gambar)

Indah yang tersembunyiTaman langit menghampar semesta alam
Mengabarkan kekuasaanNya dari balik tabir surya
Mengajak hati untuk bersujud
Akan lembutnya hasil ciptaanNya
Hingga agar ada uca syukur

Ternyata...
Betapa indah taman itu
Bak edensor dalam karya anak Belitung
Keindahan yang tersembunyi

Mungkin karena setiap hari kita saksikan
Sehingga keindahan itu menjadi biasa
Sangat biasa...

(Kadang kita jarang bersyukur, hingga dia akhirnya pergi)

Ini beberapa foto yang sempat kuambil sekitar 2003 di seputaran Asrama Mahasiswa UNHAS.





















(Diambil dari lantai dua, jembatan penghubung Blok B dan C RT 1ABCD) Tampak sumur 'keramat' tempat aktivitas pagi dan sore. Dan menjadi ramai di hari mencuci sedunia, hari Ahad apalagi kalau air dari kran hidran tidak mengalir. Jadilan seperti ibu-ibu yang ramai mencuci.

















(Saat surya datang tiap pagi dari arah timur Ramsis. Diambil di depan Blok C RT 1 ABCD, dekat kamarku)

















(Gambar diambil dari lantai 3 Blok A, RT 1 ABCD. Tampak lapangan bola yang diapit dengan Asrama tetangga, Unit 1 EFGH.)























(Gambar diambil pagi hari dari tepi danau UNHAS. Tampak dari jauh atap Masjid Kampus UNHAS dalam rimbun hijau pohon dan sejuknya air danau.)






















(Gambar diambil pagi hari usai riyadhoh di sekitar 'coleseum' gedung IPTEKS, dekat danah UNHAS)
















Inilah Asrama Mahasiswa itu. Bagaimana kabarnya sekarang?

Inna fi khalqis sama_wa_ti wal ardi wakhtila_fil laili wan naha_ri la'a_ya_til li'ulil alba_b(i). Allazina yazkuru_nalla_ha qiya_maw wa qu'u_daw wa 'ala_ junu_bihim
Translation: “Verily! In the creation of Heavens and the Earth, and in the alternation of day and night, there are indeed signs for men of understanding who remember Allah (always) standing, sitting and lying down on their sides.”
(Sura.Al.Imran V.190, 191)

Ada kalanya rindu itu datang....

Minggu, 11 Mei 2008

Tiga jenis cinta













Menjelang magrib seperti biasa aku beranjak pulang dengan kendaraan kantor yang sejuk oleh hembusan AC. Dari balik jendela tampak temaram senja memerah yang hendak kembali ke peraduan malam. Mengiring perjalanan pulang kali ini aku mendengar "Spiritual massage on return" sebuah radio bergenre musik, dari earphone-ku. Pesan kali ini berjudul tentang 'Cinta'. Awalnya aku pikir akan berkisah tentang cinta ala lagu yang sering diputar di jam-jam normal.

Ada kalimat yang membekas dari suara yang serak dan lembut itu:

Begini intinya...

Ada tiga macam cinta:
Pertama, cinta kepada Allah. Cinta ini adalah cinta tertinggi yang menggambarkan kemurnian aqidah dan tauhid seseorang. Kepercayaan bahwa sebagai manusia kita menyadari posisi kita sebagai hamba Tuhan. Dengan cinta inilah idealnya kita menjadikan tujuan kita dalam perjalanan hidup kita untuk menggapai ridho Allah. Beribadah dan berserah diri padanya.

Kedua, cinta karena Allah. Mencintai sesuatu karena Allah. Ketika kita mencintai seseorang maka landasan utamanya adalah karena orang yang kita cintai memiliki karakter, sifat dan pola fikir yang berada dalam frame yang juga dicintai oleh Allah. Kita cinta dia karena kecintaannya yang dalam kepada Allah. Karena dia berjalan di sebuah arah menuju cahaya Allah. Disinilah kadang kita melupakan syarat cinta yang suci.

Ketiga, cinta bersama Allah. Ini cinta yang terlarang, karena menjadikan Allah sebagai kecintaan kita bersama dengan yang lain. Allah kita jadikan partner yang lain, mensejajarkan dengan Allah atau bahkan mendahulukan keinginan yang lain dibanding Allah. Inilah syirik.

Demikin intinya.

Mataku tetap memandang keluar jendela mobil yang terus melaju. Tertegun aku dengan tiga cinta itu. Terlebih saat menutup dengan kata, "cinta jenis apakah yang telah kita pergunakan selama ini?" Sungguh menyentuh.

Sebuah lagu mengiringi, lalu berganti dengan suara azan magrib yang berkumandang.

Rabu, 07 Mei 2008

SMS tengah malam













Menjelang tengah malam Hp-ku bergetar. Ada SMS yang masuk. Mataku sudah terpejam dan hampir terlelap di ruang tamu. Tubuhku terasa sangat lelah. Tidak biasanya ada pesan pada jam begini.

"Subhanallah ya akh, ana dulu berpikir kalo sudah kerja seperti sekarang ini gak bakalan punya peran banyak lagi di aktivitas dakwah. Tapi justru disini kita semakin teruji untuk masuk ke dunia dakwah yang lebih nyata. Semoga kita semua bisa saling menguatkan dalam CINTA dan DAKWAH akh. Ana uhibbukum fillah."

Aku tersenyum sejenak dan ingin menitikkan air mata.

Hari ini kami tidak masuk lembur hari Ahad. Biasanya yang mau mempertebal finansial tetap masuk di hari libur seperti hari ini. Beberapa hari yang lalu ada taklimat DPD via MR untuk mengikuti kegiatan perdana 'TEKAD' yang difokuskan di sebuah DPC. Kegiatan ini berlangsung dari pagi hingga sebelum dhuhur dengan beragam kegiatan. Ada senam 'aerobic' Nusantara, bakti sosial, pengobatan gratis, bazar, dll. Ramai pula ikhwah se-Batam hadir.

Di tempat yang lain dua saudaraku melintasi laut menuju sebuah pulau berjumpa dengan beberapa orang binaannya. Ya naik perahu ke sebeuh pulau, lokasi yang diamanahkan kepada mereka. Beberapa DPC memang berada di pulau-pulau terpisah dari daratan Batam.

Malam harinya di sela lelah yang tak ditampakkan, beberapa orang simpatisan mengundang bertemu dengan kita dengan harapan yang sangat kepada kita untuk makin memantapkan langkah di jalan ini. Tampak sekali keinginan mereka turut serta dalam barisan. Rasanya malu juga dengan simpatinya yang luar biasa. Hingga kita khawatir tak sanggup menghadirkan apa yang mereka bayangkan. Perbincangan baru berakhir saat malam telah jauh merambat.

Mungkin dakwah inilah yang memaksa kita untuk dewasa. Kubalas SMS itu. "Tetaplah kita saling menguatkan akhi." (Tribute to "Pendekar seribu pulau", Ikram dan Tawa).

BERQURBAN SEBAGAI BUKTI KETAATAN

Setiap kebaikan sejatinya bisa dilaksanakan kapan saja. Namun berqurban di hari Idul Adha (dan tiga hari setelahnya) adalah momentum istim...