About

Tuesday, June 7, 2016

Target Ramadhan 3 kali khatam

 

Tak terasa tiba lagi Ramadhan tahun ini. Tentu hal utama yang harus diucapkan adalah rasa syukur. Bersyukur karena masih diberikan keseempatan untuk bersua dengan bulan puasa tahun ini.

Catatan singkat ini ingin saling menyemangati untuk memaksimalkan aktivitas di bulan Ramahan tahun ini. Yuk kita buat target yang semoga memotivasi diri untuk mencapainya. Sebelum masuk hari pertama kemarin, kami membuat target tilawah yaitu minimal 3 kali khatam.

Yuk, mari kita berusaha....

Catatan Ramadhan di hari ke-2

Thursday, February 4, 2016

PANAH BERDURI


Panah berduri menghunjam hati
Panah beracun menghantam tak berperi
Saat pandang tak lagi tenang
Tak dikekang terlepas senang
Namun di sudut lain
Ada hati yang gelisah
Ada bara yang membara
Bergelora mencabik menuntut lebih
Meraung panas tak puas
Kini buas, lepas
Ada hati yang gelisah
Ada tangis yang terisak
Ada panah berduri berteriak
Menang
Makassar, 4 Januari 2006 (Catatan buku diary 10 tahun yang lalu)

Sunday, January 31, 2016

Berselancar bersama Riyadhus Shalihin

(1) Ikhlas

Hari ini, tepat usai subuh, Aku membaca buku Riyadhus Shalihin tentang niat di bab satu. "Allah Ta'ala berfirman: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (Al Bayyinah: 5)

(2) Shalat Berjamaah
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Shalat seseorang dengan berjamaah lebih banyak pahalanya dari pada shalat sendirian di pasar atau rumahnya, selisih dua puluh derajat. Karena seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dan hanya bertujuan untuk shalat maka setiap langkah diangkatlah satu derajat dan diampuni satu dosa sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid ia dianggap mengerjakan shalat selama menunggu dilaksanakannya. Para malaikat mendoakan: "Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah tobatnya selama tidak berbuat gaduh dan berhadats."

Aku seolah merasa sejuk dan iman serasa bertambah.

(3) Taubat

Usai dhuhur kubaca lagi di bab 2 tentang taubat. Disitu disebutkan ada tiga syarat taubat; (1) Harus meninggalkan maksiat yang telah dilakukan, (2) Menyesali perbuatannya, (3) Bertekat tidak melakukan kembali perbuatan itu selama-lamanya.

Ada juga hadits yang berkisah tentang seorang laki-laki yang membunuh 99 orang. Dia ingin bertaubat. Dalam akhir usahanya itu dia baru menempuh separuh perjalanan ke kota yang terdapat orang-orang yang menyembah Allah. Namun maut menghampirinya. Di akhir hadits dituliskan, dia diampuni karena ia lebih dekat sejengkal menuju daerah tujuan.


(4) Ka'ab bin Malik

Ada juga hadits yang sungguh panjang. Kisah sahabat Rasulullah Ka'ab bin Malik yang merasakan bumi serasa sempit usai diberi iqob/ hukuman karena sebuah kelalaian. Ka'ab bin Malik yang notabene salah seorang panglima perang, tidak ikut dalam perang Tabuk. Ketika itu buah-buahan dan tetumbuhan kelihatan bagus. Karena itu, hatinya condong ke sana sehingga lalai untuk mempersiapkan perlengkapan. Dia tertinggal dari rombongan. Akhirnya tidak jadi ikut bersama pasukan yang jumlahnya sekitar 30.000 orang.

Saat perang usai dan Rasulullah dalam perjalanan pulang, Ka'ab berkata, "Tatkala saya mendengar bahwa Rasulullah berada dalam perjalanan pulang dari Tabuk, maka kesusahanpun mulau menyelimuti saya." Lalu, "Saya mulai mereka-reka alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari Rasulullah."

Keesokan harinya dari delapan puluh orang lebih yang tidak ikut, mereka berdatangan menemui Rasulullah. Beliau memperkenankan memperbaharui bai'at dan memohonkan ampun bagi mereka.

Ketika tiba giliran Ka'ab, Rasulullah tersenyum sinis. "Apa yang menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?"

"Sungguh saya telah dikaruniai kepandaian berbicara. Namun, demi Allah aku benar-benar yakin, seumpama hari ini saya berkata bohong dan engkau menerimanya, pasti sebentar lagi Allah Ta'ala menggerakkan hatimu untuk marah kepada saya", kata Ka'ab. "Demi Allah, aku tidak mempunyai udzur".

Rasulullah bersabda: "Orang ini telah berkata benar. Berdirilah! Tunggu keputusan Allah terhadap dirimu".

Dari sekian banyak orang yang menghadap Rasulullah, hanya ada tiga orang yang diberi perlakuan seperti itu, tidak langsung dimohonkan ampun. Dua orang lainnya yaitu Murarah bin Rabi'ah Al Amiry dan Hilal bin Umayyah Al Waqifiy. Dua orang lelaki salih itu telah mengikuti perang Badar dan dapat menjadi tauladan karena akhlaknya.

"Sejak saat itu Rasulullah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga. Sejak itu pula mereka telah merubah sikap dan menjauhi kami, sehingga bumi terasa asing bagiku", kata Ka'ab. Ini berlangsung selama lima puluh hari. (To be continue)

Demikian dulu sampai disitu, ya. Masih panjang ceritanya.

Malam harinya ada agenda pengajian mingguan. Kali ini dimulai lebih awal, ba'da magrib yang biasanya dimulai ba'da Isya karena kadang selesainya sampai hampir larut malam.

Materinya tentang; ziarah kubur, fenomena masyarakat, penyikapan, adab, tata cara, tentang wanita yang ziarah kubur, dll. 

Di akhir pengajian itu entah mengapa rasanya begitu mengantuk. Beberapa kali aku menguap. Mata rasanya sangat berat. Ingin tidur. Malam itu memilih tidur di tempat teman pengajianku, Syahrul.

Makassar, 3 Januari 2006 (Catatan buku diary 10 tahun yang lalu)

Thursday, January 28, 2016

Tarbiyah Ruhiyah tentang Kematian



Pertama

Pukul 07.30 anak dari guru kami yang baru berumur 5.8 tahun menghembuskan nafas terakhir di RS. Wahidin, Makasaar. Setelah 7 hari tak sadarkan diri anak yang sangat disayangi ini pergi untuk selamanya. Air mata kami tak dapat tertahankan saat itu juga. Pagi itu yang ikut menemani mejaga di rumah sakit sejak semalam; Yudi, Nur, Asrul dan saya.

Sebelumnya, sekitar pukul 06.00 beberapa ustadz beserta istrinya hadir untuk menjenguk. Diantaranya Ustadz Jafar dan Ustadz Harun. Selama waktu itu hingga menjelang wafatnya sempat kulihat anak itu bernafas tersengal-sengal beberapa lama. Menurut orang tuanya sudah hampir setiap pagi demikian. Tak berapa lama kemudian tenang lagi. 

Di malam hari sebelumnya dari luar kami melihat kedua orang tuanya senantiasa berada di sampingnya. Dengan harapan yang besar semoga segera ada perubahan.

Beberapa saat setelah kepergiannya, berita langsung disebarkan ke ikhwah-ikhwah lain melalui telpon dan sms atas duka tersebut. 

Anak itu kemudian dibawa pulang pagi itu juga. Dengan cepat ikhwah yang ada di Makassar berkumpul dan membantu persiapan pemakaman. Usai disholati, sekitar pukul 10 langsung dimakamkan di pekuburan Sudiang. Siang itu hingga malam banyak pelayat yang datang. 

Malam harinya diadakan takziah dengan kegiatan ceramah yang dibawakan oleh Ustadz Mujetaba.

Makassar, 1 Januari 2006 (Catatan dari buku diary 10 tahun yang lalu)


Kedua

Hujan semalam membuat air tertampung di atas atap tenda yang terpasang di halaman depan rumah guru kami. Malam itu Yudi, Upe, Ridwan dan saya menginap di rumah guru kami. Tiang penegar dan pembujur tenda melengkung karena menahan berat air yang tertampung diatasnya.

Ba'da shalat subuh guru kami membuka laptopnya dan memperlihatkan kenangan rekaman foto dan video terakhir anaknya. Tampak dalam foto tersebut dia bermain-main di lapangan bola samping rumah, main sepeda dan bermain-main dengan saudara-saudaranya. Begitu mengharu biru perasaan kami saat itu. Sepintas terlihat guru kami terdiam beberapa saat. Memandang foto anaknya dengan penuh perasaan.

Begitu cepat dia pergi, gumanku dalam hati.

Semalam Ustadz Mujetaba dalam ceramah takziyahnya menguraikan tema tentang kematian.

Ditekankan oleh beliau bahwa peristiwa kematian adalah salah satu sarana yang bisa mentarbiyah kita. Kematian adalah kejadian yang menyentuh aspek tauhid. Dia adalah proses yang akan menguji kadar salimatul aqidah, kadar shahihul ibadah dan kadar matinul khuluq seseorang.

Dengan kematian juga, seseorang ditarbiyah untuk ridha dan yakin atas ketentuan Allah. Dengan kematian, seseorang akan ditempa keyakinan dan penerimaannya atas takdir yang terjadi. Dengan kematian, seseorang diajarkan untuk makin mempersiap diri sebelum dapat giliran juga. 

Setiap jiwa akan menemui yang namanya ajal.

Makassar, 2 Januari 2006 (Catatan dari buku diary 10 tahun yang lalu) 

(Salam taksim untuk guru kami, Ustadz Ramli Mansyur dan alm. anaknya, Suhaib. Kami belajar ikhlas dan tabah darimu. Juga untuk Ustadz Mujetaba atas taujihatnya malam itu).



Thursday, January 14, 2016

Di halaman rumah baru

Untuk saat ini ada juga di halaman blog yang lain ya, di sini.
Silahkan mampir. :)