Langsung ke konten utama

Tarbiyah Ruhiyah tentang Kematian



Pertama

Pukul 07.30 anak dari guru kami yang baru berumur 5.8 tahun menghembuskan nafas terakhir di RS. Wahidin, Makasaar. Setelah 7 hari tak sadarkan diri anak yang sangat disayangi ini pergi untuk selamanya. Air mata kami tak dapat tertahankan saat itu juga. Pagi itu yang ikut menemani mejaga di rumah sakit sejak semalam; Yudi, Nur, Asrul dan saya.

Sebelumnya, sekitar pukul 06.00 beberapa ustadz beserta istrinya hadir untuk menjenguk. Diantaranya Ustadz Jafar dan Ustadz Harun. Selama waktu itu hingga menjelang wafatnya sempat kulihat anak itu bernafas tersengal-sengal beberapa lama. Menurut orang tuanya sudah hampir setiap pagi demikian. Tak berapa lama kemudian tenang lagi. 

Di malam hari sebelumnya dari luar kami melihat kedua orang tuanya senantiasa berada di sampingnya. Dengan harapan yang besar semoga segera ada perubahan.

Beberapa saat setelah kepergiannya, berita langsung disebarkan ke ikhwah-ikhwah lain melalui telpon dan sms atas duka tersebut. 

Anak itu kemudian dibawa pulang pagi itu juga. Dengan cepat ikhwah yang ada di Makassar berkumpul dan membantu persiapan pemakaman. Usai disholati, sekitar pukul 10 langsung dimakamkan di pekuburan Sudiang. Siang itu hingga malam banyak pelayat yang datang. 

Malam harinya diadakan takziah dengan kegiatan ceramah yang dibawakan oleh Ustadz Mujetaba.

Makassar, 1 Januari 2006 (Catatan dari buku diary 10 tahun yang lalu)


Kedua

Hujan semalam membuat air tertampung di atas atap tenda yang terpasang di halaman depan rumah guru kami. Malam itu Yudi, Upe, Ridwan dan saya menginap di rumah guru kami. Tiang penegar dan pembujur tenda melengkung karena menahan berat air yang tertampung diatasnya.

Ba'da shalat subuh guru kami membuka laptopnya dan memperlihatkan kenangan rekaman foto dan video terakhir anaknya. Tampak dalam foto tersebut dia bermain-main di lapangan bola samping rumah, main sepeda dan bermain-main dengan saudara-saudaranya. Begitu mengharu biru perasaan kami saat itu. Sepintas terlihat guru kami terdiam beberapa saat. Memandang foto anaknya dengan penuh perasaan.

Begitu cepat dia pergi, gumanku dalam hati.

Semalam Ustadz Mujetaba dalam ceramah takziyahnya menguraikan tema tentang kematian.

Ditekankan oleh beliau bahwa peristiwa kematian adalah salah satu sarana yang bisa mentarbiyah kita. Kematian adalah kejadian yang menyentuh aspek tauhid. Dia adalah proses yang akan menguji kadar salimatul aqidah, kadar shahihul ibadah dan kadar matinul khuluq seseorang.

Dengan kematian juga, seseorang ditarbiyah untuk ridha dan yakin atas ketentuan Allah. Dengan kematian, seseorang akan ditempa keyakinan dan penerimaannya atas takdir yang terjadi. Dengan kematian, seseorang diajarkan untuk makin mempersiap diri sebelum dapat giliran juga. 

Setiap jiwa akan menemui yang namanya ajal.

Makassar, 2 Januari 2006 (Catatan dari buku diary 10 tahun yang lalu) 

(Salam taksim untuk guru kami, Ustadz Ramli Mansyur dan alm. anaknya, Suhaib. Kami belajar ikhlas dan tabah darimu. Juga untuk Ustadz Mujetaba atas taujihatnya malam itu).



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nol

Ada kalanya mata jenuh memandang langit yang terik. Hingga rasanya ingin berteduh. Berteduh di bawah rindang pohon yang hijau. Dan merasakan belaian angin yang sepoi. (Welcome Syawal)

TRUE STORY FROM MY NEIGHBOUR

Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Kepada kawan-kawan (PT. Batamec Shipyard/ dan lainnya) Lewat lembaran ini kami ingin menceritakan sebuah kisah yang mengajak kita untuk berbagi kepedulian.
Kemarin malam, seorang tetangga kami (waktu masih tinggal di Mess Perusahaan, Perumnas Sagulung Blok F 13-14), Pak Tata namanya, menceritakan kisah nyata kalau bisa dibilang, atau lebih tepatnya kisah di depan mata karena aktor-aktornya adalah tetangga sendiri yang rumahnya pas sudut jalan, di depan rumah Pak Tata, blok F 85). Sebuah keluarga yang didalamnya ada beberapa anak yatim. Karena ingin menyaksikan sendiri para ’aktor’ tersebut, kami berkunjung ke rumah itu. Rumah yang sebenarnya sangat sering aku lewati dulu saat masih menjadi warga blok F.
Dari depan rumah tersebut nampak kusam. Nampak tembok yang mulai pudar putihnya dan terkelupas karena tak disentuh renovasi sekalipun. Lampu depan yang menerangi teras malam itu bersinar sayu seolah tak bertenaga. Halaman rumah juga kosong tak ada hiasan bunga-bun…

Indah yang tersembunyi

(Klik untuk memperbesar gambar)

Indah yang tersembunyiTaman langit menghampar semesta alam
Mengabarkan kekuasaanNya dari balik tabir surya
Mengajak hati untuk bersujud
Akan lembutnya hasil ciptaanNya
Hingga agar ada uca syukur

Ternyata...
Betapa indah taman itu
Bak edensor dalam karya anak Belitung
Keindahan yang tersembunyi

Mungkin karena setiap hari kita saksikan
Sehingga keindahan itu menjadi biasa
Sangat biasa...

(Kadang kita jarang bersyukur, hingga dia akhirnya pergi)

Ini beberapa foto yang sempat kuambil sekitar 2003 di seputaran Asrama Mahasiswa UNHAS.





















(Diambil dari lantai dua, jembatan penghubung Blok B dan C RT 1ABCD) Tampak sumur 'keramat' tempat aktivitas pagi dan sore. Dan menjadi ramai di hari mencuci sedunia, hari Ahad apalagi kalau air dari kran hidran tidak mengalir. Jadilan seperti ibu-ibu yang ramai mencuci.

















(Saat surya datang tiap pagi dari arah timur Ramsis. Diambil di depan Blok C RT 1 ABCD, dekat kamarku)

















(Gambar diambil dari lantai 3 Blok A, RT 1 ABCD.…