Langsung ke konten utama

Berselancar bersama Riyadhus Shalihin

(1) Ikhlas

Hari ini, tepat usai subuh, Aku membaca buku Riyadhus Shalihin tentang niat di bab satu. "Allah Ta'ala berfirman: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (Al Bayyinah: 5)

(2) Shalat Berjamaah
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Shalat seseorang dengan berjamaah lebih banyak pahalanya dari pada shalat sendirian di pasar atau rumahnya, selisih dua puluh derajat. Karena seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dan hanya bertujuan untuk shalat maka setiap langkah diangkatlah satu derajat dan diampuni satu dosa sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid ia dianggap mengerjakan shalat selama menunggu dilaksanakannya. Para malaikat mendoakan: "Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah tobatnya selama tidak berbuat gaduh dan berhadats."

Aku seolah merasa sejuk dan iman serasa bertambah.

(3) Taubat

Usai dhuhur kubaca lagi di bab 2 tentang taubat. Disitu disebutkan ada tiga syarat taubat; (1) Harus meninggalkan maksiat yang telah dilakukan, (2) Menyesali perbuatannya, (3) Bertekat tidak melakukan kembali perbuatan itu selama-lamanya.

Ada juga hadits yang berkisah tentang seorang laki-laki yang membunuh 99 orang. Dia ingin bertaubat. Dalam akhir usahanya itu dia baru menempuh separuh perjalanan ke kota yang terdapat orang-orang yang menyembah Allah. Namun maut menghampirinya. Di akhir hadits dituliskan, dia diampuni karena ia lebih dekat sejengkal menuju daerah tujuan.


(4) Ka'ab bin Malik

Ada juga hadits yang sungguh panjang. Kisah sahabat Rasulullah Ka'ab bin Malik yang merasakan bumi serasa sempit usai diberi iqob/ hukuman karena sebuah kelalaian. Ka'ab bin Malik yang notabene salah seorang panglima perang, tidak ikut dalam perang Tabuk. Ketika itu buah-buahan dan tetumbuhan kelihatan bagus. Karena itu, hatinya condong ke sana sehingga lalai untuk mempersiapkan perlengkapan. Dia tertinggal dari rombongan. Akhirnya tidak jadi ikut bersama pasukan yang jumlahnya sekitar 30.000 orang.

Saat perang usai dan Rasulullah dalam perjalanan pulang, Ka'ab berkata, "Tatkala saya mendengar bahwa Rasulullah berada dalam perjalanan pulang dari Tabuk, maka kesusahanpun mulau menyelimuti saya." Lalu, "Saya mulai mereka-reka alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari Rasulullah."

Keesokan harinya dari delapan puluh orang lebih yang tidak ikut, mereka berdatangan menemui Rasulullah. Beliau memperkenankan memperbaharui bai'at dan memohonkan ampun bagi mereka.

Ketika tiba giliran Ka'ab, Rasulullah tersenyum sinis. "Apa yang menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?"

"Sungguh saya telah dikaruniai kepandaian berbicara. Namun, demi Allah aku benar-benar yakin, seumpama hari ini saya berkata bohong dan engkau menerimanya, pasti sebentar lagi Allah Ta'ala menggerakkan hatimu untuk marah kepada saya", kata Ka'ab. "Demi Allah, aku tidak mempunyai udzur".

Rasulullah bersabda: "Orang ini telah berkata benar. Berdirilah! Tunggu keputusan Allah terhadap dirimu".

Dari sekian banyak orang yang menghadap Rasulullah, hanya ada tiga orang yang diberi perlakuan seperti itu, tidak langsung dimohonkan ampun. Dua orang lainnya yaitu Murarah bin Rabi'ah Al Amiry dan Hilal bin Umayyah Al Waqifiy. Dua orang lelaki salih itu telah mengikuti perang Badar dan dapat menjadi tauladan karena akhlaknya.

"Sejak saat itu Rasulullah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga. Sejak itu pula mereka telah merubah sikap dan menjauhi kami, sehingga bumi terasa asing bagiku", kata Ka'ab. Ini berlangsung selama lima puluh hari. (To be continue)

Demikian dulu sampai disitu, ya. Masih panjang ceritanya.

Malam harinya ada agenda pengajian mingguan. Kali ini dimulai lebih awal, ba'da magrib yang biasanya dimulai ba'da Isya karena kadang selesainya sampai hampir larut malam.

Materinya tentang; ziarah kubur, fenomena masyarakat, penyikapan, adab, tata cara, tentang wanita yang ziarah kubur, dll. 

Di akhir pengajian itu entah mengapa rasanya begitu mengantuk. Beberapa kali aku menguap. Mata rasanya sangat berat. Ingin tidur. Malam itu memilih tidur di tempat teman pengajianku, Syahrul.

Makassar, 3 Januari 2006 (Catatan buku diary 10 tahun yang lalu)

Komentar

Pos populer dari blog ini

RAMADHAN, TAKWA DAN KEBAHAGIAAN

Tak terasa bulan ramadhan sebentar lagi tiba. Selama sebulan kita akan dilatih untuk menahan nafsu terhadap sesuatu yang sebelumnya boleh saja kita lakukan. Di hari biasa kita boleh dengan bebas makan dan minum. Setiba di bulan Ramadhan, kita tahan untuk tidak memakannya hingga magrib tiba. Bagi yang sudah biasa melakukan puasa, menjadi sesuatu yang mudah saja. Namun bagi yang belum biasa tentu akan menghadapi godaan yang besar antara melanjutkan puasa atau menghentikan ‘penderitaan’ dalam lapar dan dahaga.
Kekuatan motivasi seseorang melakukan sesuatu akan mempengaruhi kemampuannya menjalankan kegiatan tersebut. Puasa sebagai sebuah ibadah, sejatinya harus dimotivasi oleh dorongan iman. Menjalankan ibadah puasa karena puasa adalah perintah dari Allah dan mengharapkan ampunan dari Allah atas segala dosa dan kesalahan di masa lalu. Dengan motivasi yang kuat maka  godaan untuk berhenti juga akan kuat untuk dilawan.
Tujuan akhir dari puasa adalah mendapatkan derajat takwa (QS 2:183). Denga…

Undangan Walimah

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
QS. ar-Rum (30) : 22






Mohon doa dan restu, semoga Allah memudahkan setiap langkah kita dalam mendapatkan BERKAH Allah dalam setiap tahapan perjalanan hidup kita.

Kisah Anak Penjual koran

Ini kisah tentang pejual koran lagi. Tapi ini episode yang aku saksikan sendiri.

Beberapa hari yang lalu sepulang dari Batam Center usai menyaksikan "Sang Pencerah", kami berhenti di perempatan lampu merah Engku Putri-Masjid Raya. Saat menunggu lampu berganti hijau, seorang bocah berumur sekitar sepulu tahun bangkit mendekati kami. Tubuhnya subur, kulitnya agak gelap dibawah lampu jalan yang remang-remang. Berkaos warna cokelat. Raut wajahnya memelas. Dia menawarkan koran Batam Post.

"Pak, beli koran pak." Anak itu mengambil koran dari sekian koran yang didekap di dadanya. Wajahnya menatap wajah kami. "Belilah Pak. Untuk makan Pak." Lampu merah belum berganti. "Masih sekolah, Dek? Kelas berapa? Aku bertanya. "Kelas lima." Jawabnya singkat. "Tinggal dimana?" "Tanjung Piayu". Hah? Tanjung Piayu, jauh sekali pikirku dari Batam Center ini. "Tinggal sama siapa?" Tanyaku lagi. Sama Ibu. Klo Bapak, sudah meninggal. Ib…