Minggu, 07 September 2008

Bulan Perjuangan



















Puluhan sms mendera hp-ku mengucapkan kata-kata kegembiraan menyambut datangnya bulan suci itu. Teriring salam kepada semua kawan semoga ramadhan kali ini menjadi ramadhan yang terindah.
Ada suasana yang mendebarkan bagiku. Ramadhan kali ini akan kulalui di negeri rantau. Dan yang lebih penasaran lagi adalah bagaimana suasana bulan puasa di tempat kerja. Dan ternyata…
Hari ini ramadhan telah berlalu 4 hari. Seperti biasa pagi-pagi aku berangkat meninggalkan rumah. Sambil tancap gas menuju tempat kerja berburu dengan ratusan pengendara motor yang lain, terdengar syair nasyid dari earphone dibalik helmku yang entah, syairnya saat itu begitu bermakna. Sejenak tanganku seolah bergetar memegang stang motor dan tubuh bergidik.

Bulan perjuangan tingkatkan iman
Pupuk pengorbanan suci
Bina kesungguhan bina keiklasan
Berbekal takwa untuk
kehidupan Ramadhan

Yah…Bulan perjuangan. Berpuasa dibawah terik mentari sambil menyusuri bangunan-bangunan kapal menyempurnakan perjuangan ini. Pantulan panas dari berbagai arah memaksa peluh memabasahi dahi dan sekujur tubuh. Kutengadahkan kepala keatas menatap bola matahari yang membara dari balik black glasses. Haus? Pasti. Di hari biasa jika turun ke lapangan aku biasanya selalu membawa sebotol air. Sehari kadang diisi lagi 2-3 kali. Begitu indah perjuangan ramadhan kali ini.

Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan
Tinggikan hari dengan kesibukan Robani
Janganlah sampai keluar dengan tangan hampa
Tiada hasil kecuali lapar dahaga

Lapar dan dahaga mungkin salah satu ujian ramadhan, namun bukan hanya itu yang menjadi tuntutan ibadah puasa kita.

Ingatkan diri sang junjungan di bulan Rohmah
Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah
Cerah hari hari bercahayakan
Indah menyinar ketakwaan

Inilah amalan yang mesti kita sempurnakan. Ladang untuk itu datang lagi untuk kita tahun ini. Allah masih memberikan kesempatan bagi kita.


Telah datang bulan keagungan
Bulan rohmah untuk keberkahan
Berlombalah untuk pahala
Dari malam seribu bulan
Lailatul Qodar
Perbanyaklah ridhoi Robb-mu
Syahadah istigfar selalu
Mintalah ridho-Nya karena tujuan-Mu
Mohon perlindungan dari nerakanya
Ramadhan... Ramadhan..
(Ramadhan/ Munsyid : Izzatul Islam/ http://liriknasyid.com)

Tak terasa aku hampir sampai ke tempat kerja. Dari kejauhan nampak ujung-ujung gantry crane berwarna kuning yang menjulang jangkung bertulisakan SAFETY FIRST mengangkangi kapal-kapal yang belum rampung.
Terima kasih ya Allah kau pertemukan kami dengan ramadhan kali ini.

Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’ban waballigna ramadhan.

Selasa, 19 Agustus 2008

Ucapan terima kasih

Teriring ucapan terima kasih dari adik-adik asuh dan keluarganya kepada para kakak-kakak yang dengan penuh keikhlasan telah memberikan secercah harapan kepada mereka. Kami menyambungkan ucapan terima kasih mereka, semoga menjadi amal jariyah untuk kita semua. (Telah diserahkan bea-siswa untuk biaya pendidikan 6 bulan pertama untuk 5 orang adik asuh pada 16 Agustus 2008).

(Tribute untuk kawan2 di Batamec all trade, terkhusus Accounting Dept, kawan2 di Pan-United, di Jaya Asiatic,dll. Doa mereka mengiringi langkah kita.)

Jumat, 01 Agustus 2008

TRUE STORY FROM MY NEIGHBOUR














Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Kepada kawan-kawan (PT. Batamec Shipyard/ dan lainnya)
Lewat lembaran ini kami ingin menceritakan sebuah kisah yang mengajak kita untuk berbagi kepedulian.

Kemarin malam, seorang tetangga kami (waktu masih tinggal di Mess Perusahaan, Perumnas Sagulung Blok F 13-14), Pak Tata namanya, menceritakan kisah nyata kalau bisa dibilang, atau lebih tepatnya kisah di depan mata karena aktor-aktornya adalah tetangga sendiri yang rumahnya pas sudut jalan, di depan rumah Pak Tata, blok F 85). Sebuah keluarga yang didalamnya ada beberapa anak yatim. Karena ingin menyaksikan sendiri para ’aktor’ tersebut, kami berkunjung ke rumah itu. Rumah yang sebenarnya sangat sering aku lewati dulu saat masih menjadi warga blok F.

Dari depan rumah tersebut nampak kusam. Nampak tembok yang mulai pudar putihnya dan terkelupas karena tak disentuh renovasi sekalipun. Lampu depan yang menerangi teras malam itu bersinar sayu seolah tak bertenaga. Halaman rumah juga kosong tak ada hiasan bunga-bungaan. Mungkin penghuni rumah ini tak sempat lagi memikirkan masalah seperti itu.

Kami tiba disambut seorang kakek yang masih nampak gesit. Lalu muncul satu persatu isi rumah tersebut. Seorang ibu paruh baya, seorang anak kecil kurus, seorang kakaknya, lalu seorang gadis seusia anak SMA. Lalu tiba dari luar beberapa anak remaja yang tampaknya dari acara ’panggung pemuda’ yang lagi digelar di depan kompleks malam itu. Ternyata di rumah itu ada 14 orang penghuni. Saya tidak habis pikir, kok bisa ya rumah sekecil itu memuat orang sebanyak itu. Saat masih di Mess F/14 saja (istana batamec itu), kami tinggal delapan orang sudah terasa rame, apalagi empat belas orang.

Di rumah tersebut tinggal beberapa orang anak yatim. Kurang lebih sebulan yang lalu, Bapak mereka meninggal karena sakit. Kini anak-anak tersebut diasuh oleh ibunya bersama anggota keluarganya yang lain di rumah tersebut.

Ada beberapa orang anak yang masih dalam usia sekolah. Ada Teguh (SD), Andi (SKB), Akbar (SKB) dan Eli (MAN). Suci (SD) anak Pak Tata sekalian juga. Keluarga anak-anak ini sebenarnya merasa bimbang dan berat untuk menyekolahkan mereka. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk kebutuhan sehari-hari mungkin masih seadanya. Karena yang menjadi tulang punggung keluarga itu tak ada lagi. Sementara yang ’berproduksi’ alias mencari nafkan di rumah itu seorang paman yang narik ojek, kakek yang bantu-bantu Pak Tata di usaha kerupuk dan sang Ibu yang jualan kecil-kecilan di pasar Sagulung.

Hati ini tergugah ingin sekali meringankan beban mereka walau malam itu hanya memberikan sedikit harapan bahwa akan ada teman-teman saya yang Insya Allah akan bersedia membantu. Utamanya untuk membiayai biaya bulanan sekolah mereka. Setelah diakumulasi, mereka berempat membutuhkan sekitar sekitar Rp. 350.000 sebulan. (Mungkin nilai yang tak seberapa bagi yang sudah berkecukupan).

Kulihat wajah cerah dan senyum bahagia, mungkin juga haru sebab kulihat mata ibu itu berkaca-kaca. Dan...akhirnya kebahagiaan karena anak-anaknya akan ada yang membantu biaya pendidikan mereka, mengharapkan kepedulian kita. Sebenarnya saya takut memberikan harapan seolah biaya sekolah akan ’beres’ sebab calon kakak asuh itu harapannya adalah Anda, yang belum saya konfirmasi. Olehnya itu kami mengajak kawan-kawan untuk menjadi Kakak asuh bagi mereka dengan membantu biaya pendidikan mereka. Saya kira ini mungkin salah satu cara Dia, mengajarkan arti sebuah kepedulian, dan bukan sekedar teori. Mulai yang dekat dengan lingkungan tempat kita berada.

Kalau boleh ini semacam teknisnya:
Berikut keterangan dan rincian biaya yang dibutuhkan*:
No
Nama
Sekolah
Biaya perbulan
1.
Eli
Kelas 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Batam
Rp. 125.000
2.
Teguh
Kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah Bina Ummah, MKGR
Rp. 50.000
3.
Andi
Sanggar Kegiatan Belajar (Smpg RS Daerah Btm)
Rp. 50.000
4.
Akbar
Sanggar Kegiatan Belajar (Smpg RS Daerah Btm)
Rp. 50.000
5.
Suci
Kelas 3 SD Darul Qufran, Sagulung
Rp. 60.000

Untuk tahun ajaran baru, Eli yang baru Kelas 1 MAN Batam, dan Teguh juga membutuhkan biaya pembelian buku sebesar Rp. 317.000* dalam bulan ini (Juli 08)
Bagi kawan-kawan yang berminat menjadi kakak asuh/ donatur (jumlah sesuai keinginan, namun mungkin sekedar tawaran memilih paket 25.000, 50.000, 75.000, 100.000 perorang/ perbulan). (Exp: 13 kakak asuh x Rp.25.000 = 325.000). Harapanya bulan Agustus nanti telah ada Kakak Asuh yang bersedia membantu biaya sekolah mereka.
Untuk jangka selanjutnya kami akan mencoba bekerja sama dengan lembaga yang menjadi fasilitator beasiswa anda nantinya.
*) Data copy-an yang diberikan kepada kami

Fasilitator, info dan saran:
Marhaban/ BC 3539. Yang berminat silakan ketik sms (Nama/Dept/Donasi) ke Cp: 081355122909 Exp (Marhaban/Hull/25rb). Email: mar_haban@yahoo.co.id. Blog: mar-haban.blogspot.com. Atau langsung ke alamat mereka: Perumnas Griya Sagulung, Blok F/85. Kelurahan Sagulung Kota, Kec. Sagulung. Mengajak juga untuk menjadi semacam ‘team kakak asuh’.
Posted: Batam_Sunday, 27 July 2008

Minggu, 13 Juli 2008

Tiada henti

Kala terik makin panas membakar
Tiba-tiba awan datang menggulung
Hitam pekat bak siluman bersarung
Hujan menderu basahi tanah berdebu

Saat tantangan makin menempa
Memaksa kita makin dewasa
Hingga kadang berfikir untuk berkata:
Mampukah kita?


Namun toh ternyata kita semua bisa melewatinya
Hingga makin terasa arti penting
Sebuah tanggung jawab

Ternyata kita takkan pernah berhenti belajar

(Sejenak rehat project H7038)

Senin, 07 Juli 2008

Surat Buat Wakil Rakyat















Iwan Fals ( Album Wakil Rakyat 1987 )

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana di gedung DPR

Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili

Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Dikantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke

Saudara dipilih bukan di lotere
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam juara he eh juara hahaha

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana di gedung DPR

Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Kemarin aku mendengar lagi lagu ini langsung dari seorang (mirip) Iwan Fals. Mirip suara dan idealismenya. Minimal wajah dan penampilannya berkata begitu. Entah apa alasan penyelenggara acara hari ini mengundang mereka jadi bintang utama. Biasanya yang tampil dalam acara serupa ini seperti bulan kemarin adalah para Nasyider yang berwajah sejuk bak pangeran dan tak brewokan. Two tumbs up for panitia.

Inilah lagu yang ga ada matinya, menurut kesimpulan sementara saya. Kami yang duduk bersila sambil melambai-lambai tangan hafal betul dan sangat menikmati lagu ini. Padahal sudah lagu ini hampir berusia 30 tahun.

Ada perasaan geli sekaligus kecut tapi kami begitu menikmatinya, hingga seorang "yang biasa bersafari" yang hadir hari itu digotong untuk "mengakui kebenaran lagu itu".

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”
Bravo Iwan Fals. Sebentar lagi lagu ini akan laris lagi sebagai pelipur rakyat yang tak berdaya. Selama Indonesia belum AMAN DAN SEJAHTERA lagu ini akan tetap abadi.

Minggu, 15 Juni 2008

Mars Kepanduan

Bangkitlah mujahid bangkitlah
Rapatkan barisan rapatkan
Ayunkanlah langkah perjuangan
Mati syahid atau hidup mulia

Siapkan dirimu siapkan
Gentarkan musuhmu gentarkan
Tak kan pernah usai pertarungan
Hingga ajal kan menjelang

Enyahkan rasa takut dan gentar
Walau raga kan meregang nyawa
Karna ALLAH tlah janjikan syurga
Untukmu mujahid setia

Melepas lelah usai Mukhayam.

Sabtu, 07 Juni 2008

Tangan kita

Aku sedih dan ingin marah
Mendengar penyakit bangsa ini
Banyak hutang dimana-mana
Banyak tangan asing dimana-mana
Banyak 'tikus' dimana-mana

Negeri ini butuh tangan kita

Tribut to Ust Nurmahmudi Ismail

Rabu, 04 Juni 2008





















Batam Dalam Kenangan

Suara Persaudaraan

Kulihat mentari bundar di langit Batam
Membara redup lembut tiada menyilaukan

Sebentuk siluat pepohonan dari hutan nan perawan

Getarkan hati akan keagungan Tuhan

Yang merindu pertemuan dengan Ar-Rohman


Nasyid ini pertama kali ku mendengarnya di awal-awal tarbiyah, dari seorang yang baik hati. Terdengar agak melo, sendu, jadul dan agak norak. Saat itu aku tidak biasa mendengar lagu dengan ritme yang demikian. Beberapa tahun berikutnya aku mulai akrab dengan nuansa seperti itu dan tidak merasa ganjil lagi. Sekian lama aku tak mendengar syair itu lagi. Belakangan saat tak sengaja mendengarnya, entah kenapa syair diatas mulai menggetarkan hati.

Dipagi itu nahgoya berseri
Di muka kuning kudapatkan rumah suci

Disana kulabuhkan sejenak dipesanggrahan hati

Sambil menganyam gaun rindu sanubari

Menguak takbir kebesaran Illahi
Nagoya dan Muka Kuning, ah sungguh ramai dikau.

Alloh Alloh Alloh
Pagi yang indah saat ku di sana

Alloh Alloh Alloh

Seindah ukhuwah yang menyala di dada


Ukhuwah...
Betapa bersyukur kita memiliki saudara di mana-mana
Saat berjumpa seolah telah lama kita saling berkenalan
Alloh...Allah...

Tribute to My-new-family

Batam is a small but busy island in Indonesia of 45km x 25km and nearly a million people, hundreds of multinational owned factories, towns, shopping centres and gateway to the Riau Islands.


Located only 20km from Singapore and 25km from Johor in Malaysia, Batam is Indonesia's equivalent to China's SEZ's (Special Economic Zones) - a place where the nation's economic planners test new economic policies and ideas. The island is an industrial hub with electronics factories, a large and growing ship repair industry and an even larger oil service sector. Quite a few expats head there for work, and pubs and golf courses have sprung up to serve them.
Most tourists, on the other hand, come from nearby Singapore . Unless you have a particular interest in these, you're better off going elsewhere, such as Batam's more resort-y neighbor Bintan or the peaceful capital city of the province Tanjung Pinang. (wikitravel.org)

Jumat, 23 Mei 2008

Jilbab Suci













Gadis kecil itu berjalan dengan santai di depan kami. Dia memakai baju dan celana agak tebal berwarna biru tua. Jilbab kecil putih menutupi kepala hingga dadanya. Kami (bersama Ikram, Pak John sekeluarga, Pak Tata dan anak gadis kecilnya) barusan pulang dari acara Milad PKS (20/05/08) di Lapangan Engku Putri, Batam Center.

Nama gadis kecil itu, Suci. Usianya baru 9 tahun dan masih duduk di kelas 2 SD Darul Gufron, Batam. Tubuhnya kurus tapi lincah. Di sekolah semua siswi diharuskan memakai jilbab, namun biasanya dilepas jika di rumah. Awalnya saya tidak menyadari salah satu kebiasaan istimewa anak itu hingga Ayahnya menceritakan kepada saya. Jika keluar rumah Suci selalu memakai jilbabnya. Bahkan jika buru-buru hendak keluar bermain diluar rumah dengan teman-temannya tak pernah lupa memakainya jilbabnya. Padahal ayahnya tak pernah memaksa untuk memakai jilbab.

Hari itu Ayahnya bercerita lagi sebuah kejadian tentang Suci yang membuat hatiku merinding. Suatu hari Suci marah kepada kawan mainnya lalu serta merta menempeleng kawannya itu. Ayahnya yang berada tidak jauh dari mereka, bertanya. ”Suci, kenapa kawannya ditempeleng?” Dengan bahasa pembelaan diri, Suci berujar, ”Dia menarik jilbab saya, kelihatan rambut saya, kan ini aurat Ayah.”. Masya Allah. Anak usia 9 tahun itu telah mengerti arti aurat dan memilki ghiroh keislaman seperti itu. Padahal menurut ayahnya, dia tidak pernah mendidiknya dengan sikap ekstrim seperti itu.

Inilah salah satu yang memberikan kesyukuran luar biasa dan semangat hidup buat Ayah Suci ditengah banyak ujian* dalam keluarga mereka. Anak itulah mungkin yang menjadi qurratu a’yun (penyejuk mata) bagi Ayahnya. ”Kalau begitu tempeleng saja”, ujar Ayahnya.

”Kak, mau kemana kak?” dia bertanya sambil melihat kearahku. “Mau singgah dulu ke rumah kak Ikram”. Dengan tersenyum kukucek perlahan kepala Suci yang ditutupi jilbab putih itu. Kami berpisah setelah sampai di persimpangan siang itu dan lelah dengan acara Milad seharian. Jilbab yang menutupi aurat anak kecil itu begitu suci, sesuci jiwanya.

Tribute to Pak Tata and his daughter, Suci.

Rabu, 21 Mei 2008

Film Sang Murabbi

Film "Sang Murabbi" Akan Segera Tayang


Sebuah film perjuangan seorang ustad yang rendah hati dan bersahaja. Kesederhanaan adalah hal yang kini mulai banyak hilang di tengah umat

Hidayatullah.com—Sebuah film yang bercerita tentang seorang guru bersahaja akan menjadi koleksi tontonan menarik umat Islam Indonesia. Film bertajuk "Sang Murabbi" ini menceritakan kisah seorang “pejuang dakwah” yang bersahaja.
Film yang disutradari oleh Zul Ardhia ini menampilkan bintang Irwan Rinaldi sebagai Ustadz Rahmat, Ummi Fida (diperankan oleh Astri Ivo) dan didukung beberapa bintang lain; Neno Warisman dan Afwan Izzis.

Syuting film ini dilakukan di beberapa kawasan. Diantaranya di Setu, Jakarta Timur. Menurut situs blog sangmurabbi, lokasi ini dipilih karena memiliki kemiripan dengan situasi Kuningan, Jakarta Selatan, di era 70-an akhir dan 80-an.
Pengambilan gambar juga dilakukan di lokasi di wilayah lain seperti Kampung Raden, Pondok Gede, dan Pondok Rangon.

Sebagaimana diketahui, film ini dicuplik dari perjalanan hidup almarhum Ustad Rahmat Abdullah. Almarhum dikenal sebagai seorang ustadz, "pejuang dakwah" dan guru aktivis PKS.
Ustadz Rahmat Abdullah, adalah putra Betawi yang lahir di Jakarta pada 3 Juli 1953. Almarhmum meninggal dunia tahun 2005 setelah terkena stroke ketika wudhu untuk mengerjakan sholat Magrib.

Selain dikenal sebagai mentor kader PKS, semasa hidup, almarhum pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro DPP PKS. Almarhum juga sempat menjadi anggota Komisi III DPR RI yang membidangi masalah hukum, HAM dan perundang-undangan.
Sebelum menjadi anggota DPR, almarhum aktif sebagai guru di beberapa sekolah, di antaranya Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda (1970), SD Islam Tarbitul Aulad (1971-1973), Madrasah Tsanawiyah (Mts) Rumah Pendidikan Islam (1981), Aliyah Pendidikan (1982-1984), pengajar Ma'had Dirasah Islamiyah Iqro (1993-1997) dan pengajar pendidikan Duru TK Islam Terpadu Iqro (1999).

Almarhum juga mendirikan Yayasan Islamic Center Iqro pada 1992. Di tahun 2000, dalam sebuah acara Seminar Nasional bertajuk “Tarbiyah di Era Baru” di Masjid UI, Kampus UI Depok, ustadz keturunan Betawi itu pernah disebut sebagai Syaikhut Tarbiyah.
Almarhum dikenal sebagai sosok pejuang da’wah yang sangat aktif memperkaya wawasan keilmuannya. Pendidikan formalnya hanya sampai madrasah aliyah plus setahun kuliah di LIPIA Jakarta. Tapi karena kegigihannya mencari ilmu dari beberapa halaqah, kiai dan kelahapannya membaca kitab, banyak orang mengakui kapasitas keilmuannya tak kalah dari rekan-rekannya yang bergelar doktor. Sejak tahun 1985 ia sudah sering berkunjung ke luar negeri dan keliling Indonesia, memenuhi undangan seminar, mudzakarah du’at, pelatihan kader, tabligh, dan sebagainya.
Selain itu ada satu hal yang tak dimiliki umumnya para dai, bahwa ia adalah rajin menulis.
Dalam sebuah wawancara eklusif dengan Majalah Suara Hidayatullah tahun 2001, almarhum menjawab secara jujur kritikan masyarakat tentang adanya sinyalemen kader-kader Tarbiyah yang cenderung mulai eksklusif.

“Betul, ada kalanya kopral dengan kopral berkelahi, tetapi mayor dan kolonel yang jadi atasannya biasa-biasa saja. Para jenderalnya pun saling ngobrol saja.
Kalau ada yang demikian yang saya lihat, saya mengingatkan kader-kader kita agar tidak boleh begitu. Karena sesungguhnya mereka bisa menjadi orang yang sangat dihargai masyarakat jika menggunakan cara-cara yang lebih santun,” begitu kutipnya.
“Makanya mereka disuruh mengaji ke mana-mana untuk menambah wawasan. Sehingga kalau ada kajian umum mereka datang ramai-ramai untuk memperkaya dari apa yang telah mereka dapatkan dalam kelompok-kelompok kecil itu,” tambahnya.
Itulah rekaman kisah seorang ustad rendah hati nan sederhana meski dipundaknya pernah banyak jabatan dan amanah.

Ada baiknya, masyarakat terutama para santrinya melihat ulang kesederhanaan dan kesahajaan sang guru (murabbi) itu. Menurut situs blog sangmurabbi, Film ini diperkirakan akan dilaunching bulan Juni 2008.

Potongan film ini bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?v=nrsIioV4bRs. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

BERQURBAN SEBAGAI BUKTI KETAATAN

Setiap kebaikan sejatinya bisa dilaksanakan kapan saja. Namun berqurban di hari Idul Adha (dan tiga hari setelahnya) adalah momentum istim...