About

Saturday, October 24, 2009

Mozaik Cinta

















Setiap manusia memiliki alur kehidupan yang mengagumkan. Sebab kita dilahirkan setelah melewati 'perjuangan' yang panjang. Dan bagaimanapun kita hari ini adalah hasil perjalanan panjang yang telah kita lalui.

Sungguh indah ketika hal mengagumkan itu kita kisahkan untuk kemudian menjadi pemicu bagi orang lain pula mendapatkan nikmat itu. Semoga...

Sudah lama saya membaca kisah perjuangan cinta keluarga ini yang memahat cintanya dalam nuansa Ilahiyah. Dan ingin pula rasanya mengikuti jejak meraka. Amin. Berikut share ulang dari majalah Tarbawi edisi 'Mozaik Cinta'.

Mutammimul'Ula,SH & Dra. Wirianingsih

Dengan segudang kesibukannya sebagai Ketua Umum PP Salimah, Staf Departemen Kaderisasi DPP PKS, Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA), Anggota Delegasi RI di sidang UNCSW ke 51 di New york Amerika, Koordinator Panitia Hari Anak Nasional 2007 juga saat ini tengah menyusun tesis di program S2 nya dijurusan Psykologi. Bersama suaminya, Bapak Mutammimul'Ula,SH (Aleg DPR RI Fraksi PKS) mereka mampu mendidik anak-anaknya yang berjumlah 11 orang untuk cinta Al Qur'an dengan tangannya sendiri keseluruh anak nya bisa menjadi hafidz Qur'an... Subhanalloh.
Ini adalah Biodata anak-anak beliau.

11 Amanah Allah
1. Afzalurahman, 21 tahun, semester 6 Teknik Geofisika ITB, hafal quran usia 13 tahun, sekarang masuk program PPDMS, Ketua pembinaan majelis taklim salman ITB, peserta pertamina youth programme 2007 dari ITB.

2. Faris Jihady Hanifa, 20 tahun, semester 4 fakultas syariah LIPIA, hafal quran usia 10 tahun predikat mumtaz, juara 1 lomba tahfidz 30 juz yang diselenggarakan kerajaan saudi arabia, juara 1 lomba olimpiade IPS tingkat SMA 2003.

3. Maryam Qonitat, 18 tahun, semester 2 fakultas ushuluddin univ al azhar kairo, hafal quran usia 16 tahun. Lulusan terbaik husnul khotimah 2006.

4. Scientia Afifah, 17 tahun, kelas 3 SMU 28, hafal 10 juz, pelajar teladan MTs Al Hikmah 2004.

5. Ahmad Rosikh Ilmi, 15 tahun, kelas 1 MA Husnul Khotimah, hafal 6 juz, pelajar teladan SDIT Al Hikmah 2002, lulusan terbaik MTs Al Kahfi 2006.

6. Ismail Ghulam Halim, 13 tahun, kelas 2 MTs Al Kahfi, hafal 8 juz, juara olimpiade IPA tingkat SD se Jaksel 2003, 4 penghargaan dari Al Kahfi, tahfidz terbaik, santri favorit, santri teladan, dan juara umum.

7. Yusuf Zaim Hakim, 12 tahun, kelas 1 MTs Al Kahfi, hafal 5 juz, rangking 1 di kelasnya.

8. Muh Saihul Basyir, 11 tahun, kelas 5 SDIT Al Hikmah, hafal 25 juz.

9. Hadi Sabila Rosyad, 9 tahun, kelas 4 SDIT Al Hikmah, hafal 2 juz.

10. Himmaty Muyasssarah, 7 tahun hafal 1 juz

11. Hasna wafat usia 3 tahun, bulan juli 2006.

Yang dilakukan dalam keluarga
o) Mengajarkan Al Quran sejak usia 4 tahun. Doktrin yang ditanamkan dalam keluarga bahwa Al Quran adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.

o) Jangan terlalu mengandalkan sekolah. 2/3 keberhasilan pendidikan itu ada di rumah.

o) Keberhasilan pendidikan anak adalah hasil integrasi kedua orang tuanya. Bukan sekedar untuk ibu sementara bapak beraktifitas di luar rumah. Malah sebenarnya lebih besar tanggung jawab seorang ayah dibanding ibu. Contoh: Rasulullah memanggil ayah dari anak yang mencuri, bukan ibunya. Contoh ayah idaman dalam Al Quran = Luqman. Ibrahim mentarbiyah anak dan istrinya.

o) Suami yang membangun visi keluarga dan istri yang mengisi kerangka visi itu. Sejarah mencatat, orang-orang shalih dibentuk oleh ayah yang mengerti akan perannya dalam mendidik anak: Imam Syafi'i ditinggal wafat ayahnya ketika berusia 6 tahun, namun isi kepala sang ayah sudah pindah ke sang ibu. Al Banna dan sentuhan pendidikan sang ayah. Qordhowi berkata, dahulu saya tidak tahu mengapa ayah mengkondisikan saya hafal al quran usia 10 tahun.

o) Keluarga ini begitu ihtimam atau perhatian yang tinggi terhadap anak dan pendidikan, diantaranya: perhatian dari A-Z, potong kuku, bersihkan telinga, dll. File-file khusus yang menyimpan catatan tentang anak, hasil ulangan dll. Kekayaan keluarga adalah anak dan buku. Setiap liburan, selalu mengajak anak ke toko buku, ada perpustakaan dengan 4000 buku di rumah.

o) Visi yang ada di kepala adalah anak-anak kami semuanya harus menjadi hafidz quran. Sehingga hal-hal yang dilakukan antara lain: 1) kelliling jawa dan madura untuk melihat pesantren tahfidz terbaik. Pilihan jatuh di kudus. Walau orang mencibir untuk apa menjadi hafidz quran dan menitipkan anak di pesantren. 2) Tujuh tahun pernikahan tanpa televisi. 3) Setiap hari diperdengarkan murottal. 4) Sang ibu mengajar sendiri dengan Qiroati.

o) Nasihat sang suami yang mencerminkan kekuatan visinya sebagai kepala keluarga, "Bu kita harus berbeda dengan orang lain dalam kebaikan. Orang lain duduk kita sudah harus berjalan, orang lain berjalan kita sudah harus berlari, orang berlari kita harus sudah tidur, orang lain tidur kita sudah harus bangun. Jangan sedikitpun berhenti berbuat baik sampai soal niat. Kita tidak boleh lalai karena kita tidak tahu kapan Allah mencabut nyawa kita.

o) 3 fase interaksi dengan anak menurut Imam Ali. 1) 7 tahun pertama = diperlakukan ua seperti raja -- masa pembentukan tumbuh kembang otak dan menyerap informasi. 2) 7 tahun kedua = perlakukan ia seperti tawanan perang dalam kedisiplinan -- masa penanaman sikap, disiplin disiplin disiplin. 3) 7 tahun ketiga dan seterusnya = perlakukan ia sebagai teman atau sahabat

o) Para pakar mengatakan 7 sd 12 adalah golden age. Usia emas. Saat itulah fase pembentukan sikap, perilaku, dan penanaman nilai yang paling penting.

o) Hafal qurannya Al Banna 10 tahun, Qordhoqi 10 tahun, Imam Syafii 19 tahun, Imam Ahmad 7 tahun.

o) Rosul menyuruh sholat di usia 7 tahun, dan bila sampai 10 tahun belum sholat maka pukullah ia.

o) Setiap menjelang tidur, ibu selalu menceritakan kisah-kisah para nabi dan rasul.

o) Jadwal dalam papan besar untuk belajar Al Quran bagi 11 anak.

o) Ba'da maghrib dan ba'da subuh adalah waktu interaksi dengan AL Quran. Ba'da subuh muraja'ah, ba'da maghrib hafalan.

o) Penghargaan yang tulus atas usaha anak "Nak ibu bangga sekali dengan kamu, meskipun sulit tapi kamu disiplin menyetorkan hafalan 2 ayat setiap hari..."

o) Anak pertama dan kedua sejak usia 5 dan 4 tahun terbiasa bangun sebelum subuh sampai-sampai di komplek perumahan DPR RI si kecil sudah bisa menghafal siapa saja anggota dewan yang jarang sholat shubuh berjamaah.

o) Tidak lupa membangun dakwah di keluarga besar. Saat kedua orang tua all out di luar rumah, keluarga besarlah yang terlibat mengawasi anak-anak.

o) Caranya, rutin berkunjung ke keluarga besar untuk menjalin hubungan baik dengan mereka.
o) Kesulitan di masa pembentukan adalah faktor keistiqomahan. Harus konsisten mengontrol.

o) Memagari anak2 dari pengaruh negatif. Ada aggreement dengan anak2 kapan saat menonton TV (jam berapa, film apa, berapa jam, hari ahad bagaimana, dll) dan ada hukuman bila dilanggar (1st pelanggaran, dilarang stel tv selama 3 hari, 2nd pelanggaran selama seminggu, 3rd tv diletakkan di atas lemari saja) aturan berlaku termasuk untuk orang tua. Terkadang diingatkan, " Nak, hafalanmu banyak, TV itu bisa memakan bagian pikiranmu..."

o) Yang disebut keberhasilan itu bukan pada tercapainya tujuan, tapi pada proses. Yaitu komitmen dan konsistensi kita menjalaninya. Sementara sukses goalnya, kepada Allahlah kembalinya segala urusan.

Source: Majalah Tarbawi.

No comments:

Post a Comment