Senin, 26 November 2007

Kembali...

Aduh gelap...

Kalah adalah kata yang akan menundukkan wajah, yang kadang akan memenjarakan hati dalam kegelapan malam. Ketika itu kau akan segera bersembunyi dari tatapn mata para pemberani. Karena itulah kau lari, tak ingin dicecar kalimat tajam dan ungkapan pedas. Sebab kau ingin mengembalikan harga dirimu disaat kau berada di titik nadir.

Ada saatnya kita kalah, ada saatnya kita terpuruk dalam lembah kelabu.
Ada saatnya kita hendak menangisi diri sebab lemah yang tak kuasa dipapah.
Dan saat itulah diri kan mengharap belai kasih dari sang kekasih.

Aku ingin kembali...

Kamis, 11 Oktober 2007

Sebab hidup harus lebih makna: Say hallo...

ilomovic

Say hallo...



Lama tak bersua. Bulan-bulan terakhir ini lagi konsen menyelesaikan proyek dari kantor. Rasanya baru lega beberapa pekan ini karena terakhir sudah running test. Jadi bulan-bulan terakhir kemarin waktu tak sempat memposting dan menambah tulisan.

Hari ini adalah hari ke-29 Ramadhan, hari-hari terakhir puasa tahun ini. Tak lama lagi dia akan meninggalkan kita yang entah tahun depan semoga bisa berjumpa lagi.

Hari ini juga mau pulang kampung dengan agenda, .....adadeh. :)

SELAMAT IDUL FITRI 1428 H
Minal a'idin wal fa'izdin

Bila Aku Jatuh Cinta


Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amin !

(sourde: www.dudung.net

Sabtu, 18 Agustus 2007

MUKHAYYAM, enak dan perlu

Awal bulan Agustus 2007 kemarin, agenda naik gunung terpenuhi lagi. Hasrat untuk menyaksikan keindahan alam langsung di tengah hutan, tengah gunung dan hamparan sawah, ladang dan sungai terpuaskan. Sungguh menyenangkan.
Mukhayyam...enak dan perlu.

Walau didera lalah dan pegal mengikuti agenda dan perjalanan sehari-semalam di hari terakhir dan sempat tersesat di gunung yang salah.

Shalat di tengah lapangan sawah yang kering.

Tarzan in action? Sempat-sempatna ambil foto tawwa...
Mukyayyam memang enak dan perlu. Satu lagi, menyenangkan.

Selasa, 07 Agustus 2007

Punggunggku pegal

Sudah sebulan aku bergelut dengan komputer dan laptop dan sudah hampir sebulan tidurku juga tidak normal. Lagi bergelut berjuang menyelesaikan program macromedia flash untuk kerjaan kantor.

Punggung dan leher rasanya sudah mau patah, tapi karena blum selesai dan masih 'sakau' mengerjakannya, jadilah minuman penguat untuk tidak tidur menjadi teman.

Semoga tidak pingsan di akhir episode proyek ini.

Rabu, 27 Juni 2007

Tanah...

Gunung Bambapung, Enrekang
Kita lahir dan akan dikubur
Kita hidup dan akan mati

Tanah kelahiran
Tanah kematian

Semuanya kan kita tinggalkan
Betapaun kita cintai
Setengah mati...

(Aku rindu lagi pulang kampung)

Selasa, 26 Juni 2007

Ramsis dulu...

Asrama Mahasiswa Unhas
Foto: Marhaban
Inilah wajah Asrama Mahasiswa (Ramsis) Unhas dulu. Saat saya mengambilan gambar ini sekitar dua tahun yang lalu, suasananya masih 'asli' dengan pemandangan yang tampak sudah mulai kusam. Cat yang sudah pudar, lumut warna kelabu yang jelas terlihat dan genteng yang terlihat mulai lepas. Mungkin tiu yang tampak dari luar, saat itu.

Tapi ada yang tak bisa kami lupakan dari asrama 'tua' ini, yaitu 'kebersamaan'. Kami yang tinggal bersal dari berbagai daerah, berbagai pulau. Juga dari bermacam-macam latar belakang. Untuk konsentrasi studi juga lebih beragam lagi. Hampir semua fakultas, ada mahasiswanya.

Kebersamaan itu sangat terasa pada empat momen:
1. Saat mandi dan mencuci. Apalagi pada pagi hari dan hari Ahad. Hari itu adalah hari mencuci seduania yang juga dirayakan di tempat kami itu.
2. Saat menonton di ruang TV. Walaupun ada yang memiliki TV sendiri di kamarnya, kadang terasa mereka tak seindah jika menonton beramai-ramai di ruang TV tersebut. Apalagi kalau lagi ada tayangan pertandingan bola. O... jangan diharap ruang TV akan sepi. Akan rame...
3. Saat ada 'upeti dari kampung'. Ketika ada warga, istilah penghuni ramsis, yang baru datang dari daerahnya atau kampungnya dan membawa (mesti bawa ;) oleh-oleh. Maka akan terjadi 'penyerbuan besar-besaran' dimana kamar sang pembawa upeti tersebut. Kecuali jika ia dengan sukarela membawanya ke ruang TV, tempat aman untuk 'bertempur' memperebutkan apa saja yang dibawanya.
4. Saat mati lampu. Jika panel lagi rusak, dan lampu padam seluruh asrama, agar tidak sendirian dalam kegelapan, maka carilah makhluk sejenis untuk berbagi cerita.

Begitu indah kenangan saat tinggal di Asrama Mahasiswa itu. Asrama yang tua itu, dulu. Kini dia telah mulai bersolek, dan semoga menjadi rumah yang ramah pulah untuk semua warganya selak. Aku selalu rindu akan kenangan di Ramsis setiap kali melewati Ramsis yang kini cantik.

(Foto Ramsis yang cantik pasca renovasi belum sempat diambil)





The Last Samurai



Film ini pertama kali aku tonton di kamar teman ketika masih mahasiswa. Saya lupa kapan pastinya. Tapi saat itu saya tinggal di Ramsis (Asrama Mahasiswa) Unhas dan ditonton beramai-ramai di kamar salah seorang teman kami di lantai tiga. Inilah juga kesan tinggal di asrama tersebut. Semuanya tidak seru kalau tidak berjama’ah, (seperti iklan saja; ga ada lo ga rame).

Film ini diproduksi oleh Warner Bros Entertainment Inc. pada tahun 2003, dengan bintang utama Ken Watanabe yang berperan sebagai Katsumoto dan Tom Cruise sebagai Nathan Algren.
The last samurai, menceritakan sebuah epik perjuangan seorang samurai yang berusaha mempertahankan jiwa dan tradisi generasi samurai dari keinginan sang kaisar untuk menghapus samurai dari Jepang. 

Nathan Algren adalah seorang tentara yang memiliki track record dalam perjuangan melawan tentara Indian. Perjuangan yang kemudian selalu menghantuinya dan merasa bersalah atas pembantaian orang-orang Indian yang tak berdaya. Di masa berikutnya karena desakan untuk bertahan hidup maka dia menerima tawaran sebagai tentara bayaran. Dia dikontrak oleh pemerintah Jepang untuk menghabiskan para samurai. Para samurai dianggap menghalangi keinginan dan kebijakan kaisar untuk menjadikan negara Jepang menjadi negara modern dan maju mengikuti negara barat. Dia dicap pemberontak. 

Dalam pertempuran perdana melawan pasukan samurai, Algren tertangkap dengan beberapa luka di tubuhnya. Dia di’tawan’ di perkampungan samurai di atas bukit dan melewati masa penyembuhan yang pedih. Dia dirawat di rumah keluarga Hirotaro, samurai yang sempat dibunuhnya dalam pertempuran itu. Disinilah titik kepedihan Taka, istri Hirotaro, karena harus merawat orang yang membunuh suaminya.

Ada beberap potongan dialog yang membuat saya begitu tergugah. 

Dialog pertama:
Saat Katsumoto, pimpinan generasi samurai terakhir, dikritik.
”Tuanku, kenapa ia kau biarkan hidup? Ia sudah kalan dengan memalukan.”
”Mulai saat ini kita akan mempelajari musuh baru kita”
Sementara di bagian yang lebih awal, Algren juga berkata ketika dia bertanya tentang literatur jepang yang ingin dibacanya.
”Aku tak peduli pada mereka. Aku ingin mengenal musuhku”.
Disini tergambar sebuah bentuk kecakapan seorang leader bagaimana membuat persiapan strategi dalam merencanakan sesuatu. Untuk mengahapi musuh, harus mengetahui kemampuan mereka.

Dialog kedua:
Dialog yang juga begitu berkesan buat saya. Ketika Taka, istri sang samurai Hirohoto, mengungkapkan kepedihan hatinya kepada kakaknya, Katsumoto, bagaimana ia merawat orang yang membunuh suaminya.
”Kakak, usirlah dia. Aku sudah tak tahan.”
”Apa ia kurang ajar padamu?”
”Rasa maluku tak tertahankan. Ijinkan aku bunuh diri.”
”Kau harus menuruti perintahku. Kau ingin aku membunuhnya untuk balas dendammu atas suamimu?”
”Ya.”
”Hirohito mencoba membunuh orang Amerika itu. Itu karmanya.”
”Aku tahu. Maafkan kelemahanku.”

Di sini aku menangkap, minimal dalam film ini, kekuatan jiwa para samurai dalam mengendalikan diri mereka. Antara keinginan pribadi dengan keinginan dan rencana pimpinannya.

Selasa, 19 Juni 2007

Selamat Jalan

Pagi ini mendung
Saat dia tlah berangkat
Saat mata melepas dia

Pagi ini tak secerah kemarin
Karena mungkin gundah tak bersua lagi
Juga mungkin jika tak kembali
Entah kapan jumpa lagi

Selamat jalan akhuna Rijalul Imam (Ket. Kaderisasi KAMMI Pusat)
Semoga selama di Makassar berkesan buat antum.

BERQURBAN SEBAGAI BUKTI KETAATAN

Setiap kebaikan sejatinya bisa dilaksanakan kapan saja. Namun berqurban di hari Idul Adha (dan tiga hari setelahnya) adalah momentum istim...