Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 September 2010

Kisah Anak Penjual koran

Ini kisah tentang pejual koran lagi. Tapi ini episode yang aku saksikan sendiri.

Beberapa hari yang lalu sepulang dari Batam Center usai menyaksikan "Sang Pencerah", kami berhenti di perempatan lampu merah Engku Putri-Masjid Raya. Saat menunggu lampu berganti hijau, seorang bocah berumur sekitar sepulu tahun bangkit mendekati kami. Tubuhnya subur, kulitnya agak gelap dibawah lampu jalan yang remang-remang. Berkaos warna cokelat. Raut wajahnya memelas. Dia menawarkan koran Batam Post.

"Pak, beli koran pak." Anak itu mengambil koran dari sekian koran yang didekap di dadanya. Wajahnya menatap wajah kami. "Belilah Pak. Untuk makan Pak." Lampu merah belum berganti. "Masih sekolah, Dek? Kelas berapa? Aku bertanya. "Kelas lima." Jawabnya singkat. "Tinggal dimana?" "Tanjung Piayu". Hah? Tanjung Piayu, jauh sekali pikirku dari Batam Center ini. "Tinggal sama siapa?" Tanyaku lagi. Sama Ibu. Klo Bapak, sudah meninggal. Ibu kerjanya jadi tukang cuci pakaian".

Singkat cerita, kuminta istri memberi uang untuk membeli korannya. Aku khawatir hingga malam ini dia belum makan. "Siapa namanya, Dek." Tanyaku ke anak itu. "Hendik". Lampu berganti hijau dan kami tak bisa melanjutkan dialog itu. Dalam perjalanan selanjutnya, terbayang wajah anak itu. Dan terbayang lagi kira-kira berapa keuntungan yang dia dapat malam itu. Cukupkah untuk membeli nasi bungkus plus ongkos pulang ke Tanjung Piayu?

Jadi teringat dialog dalam "Sang Pencerah". Sudah berapa anak yatim yang engkau beri makan?

NB:

Malam itu aku mendapat 'pencerahan' dari seorang anak yang berjuang di sebuah simpang jalan. Menjual koran untuk menopang hidup dirinya dan Ibunya. Kadang kita tak mensyukuri nikmat yang diberikan melimpah kepada kita. Dan ternyata ada yang lebih kekurangan dibanding diri kita.

Rabu, 15 September 2010

Kisah Ibu Penjual koran

"Nak, beli koran nak?" Saat itu saya lagi makan di sebuah warung ketika seorang ibu setengah baya menawarkan sebuah koran yang tak lagi up-date karena sudah menjelang sore. Awalnya aku tidak mempedulikannya hingga dia berkata, "Nak, beli koran nak, untuk beli makan". Sesaat mulutku berhentu mengunyah. Aku paham maksudnya bahwa dia butuh uang dan berjualan koran petang itu untuk sekedar dapat membeli makan.

Karena trenyuh mendengar kata-kata ibu itu dan melihat penampilannya yang menghiba hati, aku menawarkan tuk ikut makan di warung itu. "Ikut makan sama saya saja Bu. Nanti saya yang bayar." Ibu itu nampak ragu. Sekali lagi aku tawarkan. Tapi nampaknya masih enggan. "Kenapa Bu?". "Anak saya nanti makan apa, Nak?" Diikuti senyum kecil dari ibu tersebut. Masya Allah, ucapku dalam hati. Ibu ini tak ingin makan sendiri dan memikirkan anaknya dirumah. Dia sepertinya hanya berharap agar korannya dibeli sehingga ada uang untuk membeli makan. Hatiku terasa terobok-obok dan tiba-tiba teringat orang tuaku. Teringat akan ibuku.

Seketika itu juga aku borong lima buah koran yang harganya tak seberapa itu dan kupesankan lima bungkus nasi untuk ibu itu. Aku rasanya menyaksikan kemahakuasaan Allah atas rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Allahu Akbar.

NB: Mari mendoakan orang tua kita dan orang-orang yang kita cintai untuk segala kebaikannya. (Cerita nyata dari seorang kawan sore tadi)

Sabtu, 28 Maret 2009

Kisah Opa Sang Pelaut

“Jadilah pelaut supaya kau bisa lihat banyak tempat, banyak bangsa. Kau masih muda, masih punya banyak kesempatan. Klo Opa sudah tua”. Dia lalu melanjutkan, “Orang Makassar itu pelaut hebat-hebat, dari dulu hingga sekarang, mereka sangat cinta laut.”

Seperti biasa, siang itu aku ke workshop tujuh, sebuah bangunan besar dan tinggi seluas stadion tennis yang bisa menampung lima sampai enam lapangan. Disini salah satu lokasi fabrikasi potongan-potongan kapal (block) yang terlindung dari panas dan hujan. Disinilah saya sering bertemu dengan pak tua itu.

Usianya mungkin sekitar 60 tahun dengan perawakan agak pendek, kulit gelap. Sehari-harinya sebagai helper bagian cleaning. Tugas utamanya adalah menyapu dan membersihkan workshop seluas stadion itu beserta blok-blok kapal yang sedang dalam proses produksi.

Awalnya, setiap berpapasan dia selalu melemparkan senyum dan aku membalas sambil melambaikan tangan. Suatu hari kami bekenalan. Saling memperkenalkan diri dan asal daerah. Dari itu aku tahu dia berasal dari Ambon, dan memang tampak dari logat dan perawakannya.

Dia lalu bercerita panjang lebar bahwa dia adalah ‘orang kapal’, kru kapal bagian deck. Bermacam-macam kapal telah dilayari dengan pemilik yang bermacam-macam bendera/ negara pula, selama sepuluh tahun. Dia telah mengarungi lautan dan menginjak hampir semua negara Asia. (Ah…yang benar?) Awalnya aku seperti kurang percaya. Tapi raut wajah itu tak nampak orang yang mengada-ada. Dan sejak setahun ini beralih profesi menjadi tukang sapu. Sudah terlalu tua untuk terus melaut, katanya.

Aku tertegun dan tiba-tiba muncul kekaguman pada lelaki tua itu. Tak pernah kubayangkan lelaki tua dekil yang pakaiannya selalu kotor penuh debu itu pernah melanglang buana. Lelaki yang sering kulihat merangkak dalam blok yang sempit membersihkan debu dan bekas welding-an, ternyata bukan lelaki biasa. Yang saya herankan, kenapa kini dia ada disini, di galangan kapal yang suasananya keras. Menjadi ‘orang klining’ pula, dari jam 07.30 hingga 18.00.

“Opa sudah tua dan tidak biasa diam. Pekerjaan yang cocok untuk orang tua seperti saya disini hanya seperti ini”. Dia menjawab dengan penuh semangat. Tak tampak penyesalan di raut wajahnya karena profesinya sekarang. Subhanallah.

Pesan moral: (1)Yang tampak kadang tak seiring dengan yang kita duga. (2) Smangat terus, tak kenal usia. (3) Bangga juga pernah di Makassar, yang (dulu) orangnya hebat-hebat.

Selasa, 19 Agustus 2008

Ucapan terima kasih

Teriring ucapan terima kasih dari adik-adik asuh dan keluarganya kepada para kakak-kakak yang dengan penuh keikhlasan telah memberikan secercah harapan kepada mereka. Kami menyambungkan ucapan terima kasih mereka, semoga menjadi amal jariyah untuk kita semua. (Telah diserahkan bea-siswa untuk biaya pendidikan 6 bulan pertama untuk 5 orang adik asuh pada 16 Agustus 2008).

(Tribute untuk kawan2 di Batamec all trade, terkhusus Accounting Dept, kawan2 di Pan-United, di Jaya Asiatic,dll. Doa mereka mengiringi langkah kita.)

Jumat, 01 Agustus 2008

TRUE STORY FROM MY NEIGHBOUR














Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Kepada kawan-kawan (PT. Batamec Shipyard/ dan lainnya)
Lewat lembaran ini kami ingin menceritakan sebuah kisah yang mengajak kita untuk berbagi kepedulian.

Kemarin malam, seorang tetangga kami (waktu masih tinggal di Mess Perusahaan, Perumnas Sagulung Blok F 13-14), Pak Tata namanya, menceritakan kisah nyata kalau bisa dibilang, atau lebih tepatnya kisah di depan mata karena aktor-aktornya adalah tetangga sendiri yang rumahnya pas sudut jalan, di depan rumah Pak Tata, blok F 85). Sebuah keluarga yang didalamnya ada beberapa anak yatim. Karena ingin menyaksikan sendiri para ’aktor’ tersebut, kami berkunjung ke rumah itu. Rumah yang sebenarnya sangat sering aku lewati dulu saat masih menjadi warga blok F.

Dari depan rumah tersebut nampak kusam. Nampak tembok yang mulai pudar putihnya dan terkelupas karena tak disentuh renovasi sekalipun. Lampu depan yang menerangi teras malam itu bersinar sayu seolah tak bertenaga. Halaman rumah juga kosong tak ada hiasan bunga-bungaan. Mungkin penghuni rumah ini tak sempat lagi memikirkan masalah seperti itu.

Kami tiba disambut seorang kakek yang masih nampak gesit. Lalu muncul satu persatu isi rumah tersebut. Seorang ibu paruh baya, seorang anak kecil kurus, seorang kakaknya, lalu seorang gadis seusia anak SMA. Lalu tiba dari luar beberapa anak remaja yang tampaknya dari acara ’panggung pemuda’ yang lagi digelar di depan kompleks malam itu. Ternyata di rumah itu ada 14 orang penghuni. Saya tidak habis pikir, kok bisa ya rumah sekecil itu memuat orang sebanyak itu. Saat masih di Mess F/14 saja (istana batamec itu), kami tinggal delapan orang sudah terasa rame, apalagi empat belas orang.

Di rumah tersebut tinggal beberapa orang anak yatim. Kurang lebih sebulan yang lalu, Bapak mereka meninggal karena sakit. Kini anak-anak tersebut diasuh oleh ibunya bersama anggota keluarganya yang lain di rumah tersebut.

Ada beberapa orang anak yang masih dalam usia sekolah. Ada Teguh (SD), Andi (SKB), Akbar (SKB) dan Eli (MAN). Suci (SD) anak Pak Tata sekalian juga. Keluarga anak-anak ini sebenarnya merasa bimbang dan berat untuk menyekolahkan mereka. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk kebutuhan sehari-hari mungkin masih seadanya. Karena yang menjadi tulang punggung keluarga itu tak ada lagi. Sementara yang ’berproduksi’ alias mencari nafkan di rumah itu seorang paman yang narik ojek, kakek yang bantu-bantu Pak Tata di usaha kerupuk dan sang Ibu yang jualan kecil-kecilan di pasar Sagulung.

Hati ini tergugah ingin sekali meringankan beban mereka walau malam itu hanya memberikan sedikit harapan bahwa akan ada teman-teman saya yang Insya Allah akan bersedia membantu. Utamanya untuk membiayai biaya bulanan sekolah mereka. Setelah diakumulasi, mereka berempat membutuhkan sekitar sekitar Rp. 350.000 sebulan. (Mungkin nilai yang tak seberapa bagi yang sudah berkecukupan).

Kulihat wajah cerah dan senyum bahagia, mungkin juga haru sebab kulihat mata ibu itu berkaca-kaca. Dan...akhirnya kebahagiaan karena anak-anaknya akan ada yang membantu biaya pendidikan mereka, mengharapkan kepedulian kita. Sebenarnya saya takut memberikan harapan seolah biaya sekolah akan ’beres’ sebab calon kakak asuh itu harapannya adalah Anda, yang belum saya konfirmasi. Olehnya itu kami mengajak kawan-kawan untuk menjadi Kakak asuh bagi mereka dengan membantu biaya pendidikan mereka. Saya kira ini mungkin salah satu cara Dia, mengajarkan arti sebuah kepedulian, dan bukan sekedar teori. Mulai yang dekat dengan lingkungan tempat kita berada.

Kalau boleh ini semacam teknisnya:
Berikut keterangan dan rincian biaya yang dibutuhkan*:
No
Nama
Sekolah
Biaya perbulan
1.
Eli
Kelas 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Batam
Rp. 125.000
2.
Teguh
Kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah Bina Ummah, MKGR
Rp. 50.000
3.
Andi
Sanggar Kegiatan Belajar (Smpg RS Daerah Btm)
Rp. 50.000
4.
Akbar
Sanggar Kegiatan Belajar (Smpg RS Daerah Btm)
Rp. 50.000
5.
Suci
Kelas 3 SD Darul Qufran, Sagulung
Rp. 60.000

Untuk tahun ajaran baru, Eli yang baru Kelas 1 MAN Batam, dan Teguh juga membutuhkan biaya pembelian buku sebesar Rp. 317.000* dalam bulan ini (Juli 08)
Bagi kawan-kawan yang berminat menjadi kakak asuh/ donatur (jumlah sesuai keinginan, namun mungkin sekedar tawaran memilih paket 25.000, 50.000, 75.000, 100.000 perorang/ perbulan). (Exp: 13 kakak asuh x Rp.25.000 = 325.000). Harapanya bulan Agustus nanti telah ada Kakak Asuh yang bersedia membantu biaya sekolah mereka.
Untuk jangka selanjutnya kami akan mencoba bekerja sama dengan lembaga yang menjadi fasilitator beasiswa anda nantinya.
*) Data copy-an yang diberikan kepada kami

Fasilitator, info dan saran:
Marhaban/ BC 3539. Yang berminat silakan ketik sms (Nama/Dept/Donasi) ke Cp: 081355122909 Exp (Marhaban/Hull/25rb). Email: mar_haban@yahoo.co.id. Blog: mar-haban.blogspot.com. Atau langsung ke alamat mereka: Perumnas Griya Sagulung, Blok F/85. Kelurahan Sagulung Kota, Kec. Sagulung. Mengajak juga untuk menjadi semacam ‘team kakak asuh’.
Posted: Batam_Sunday, 27 July 2008

Jumat, 23 Mei 2008

Jilbab Suci













Gadis kecil itu berjalan dengan santai di depan kami. Dia memakai baju dan celana agak tebal berwarna biru tua. Jilbab kecil putih menutupi kepala hingga dadanya. Kami (bersama Ikram, Pak John sekeluarga, Pak Tata dan anak gadis kecilnya) barusan pulang dari acara Milad PKS (20/05/08) di Lapangan Engku Putri, Batam Center.

Nama gadis kecil itu, Suci. Usianya baru 9 tahun dan masih duduk di kelas 2 SD Darul Gufron, Batam. Tubuhnya kurus tapi lincah. Di sekolah semua siswi diharuskan memakai jilbab, namun biasanya dilepas jika di rumah. Awalnya saya tidak menyadari salah satu kebiasaan istimewa anak itu hingga Ayahnya menceritakan kepada saya. Jika keluar rumah Suci selalu memakai jilbabnya. Bahkan jika buru-buru hendak keluar bermain diluar rumah dengan teman-temannya tak pernah lupa memakainya jilbabnya. Padahal ayahnya tak pernah memaksa untuk memakai jilbab.

Hari itu Ayahnya bercerita lagi sebuah kejadian tentang Suci yang membuat hatiku merinding. Suatu hari Suci marah kepada kawan mainnya lalu serta merta menempeleng kawannya itu. Ayahnya yang berada tidak jauh dari mereka, bertanya. ”Suci, kenapa kawannya ditempeleng?” Dengan bahasa pembelaan diri, Suci berujar, ”Dia menarik jilbab saya, kelihatan rambut saya, kan ini aurat Ayah.”. Masya Allah. Anak usia 9 tahun itu telah mengerti arti aurat dan memilki ghiroh keislaman seperti itu. Padahal menurut ayahnya, dia tidak pernah mendidiknya dengan sikap ekstrim seperti itu.

Inilah salah satu yang memberikan kesyukuran luar biasa dan semangat hidup buat Ayah Suci ditengah banyak ujian* dalam keluarga mereka. Anak itulah mungkin yang menjadi qurratu a’yun (penyejuk mata) bagi Ayahnya. ”Kalau begitu tempeleng saja”, ujar Ayahnya.

”Kak, mau kemana kak?” dia bertanya sambil melihat kearahku. “Mau singgah dulu ke rumah kak Ikram”. Dengan tersenyum kukucek perlahan kepala Suci yang ditutupi jilbab putih itu. Kami berpisah setelah sampai di persimpangan siang itu dan lelah dengan acara Milad seharian. Jilbab yang menutupi aurat anak kecil itu begitu suci, sesuci jiwanya.

Tribute to Pak Tata and his daughter, Suci.

Minggu, 10 Februari 2008

Menolehlah ...









Di bawah bayang bangunan double bottom dan cuaca yang terik terdengar merdu di earphone-ku sebuah suara:

Seseorang memanggil temannya yang sedang berada di bawah. Karena suara bising mesin dan peralatan kerja, panggilan itu tidak didengar. Untuk menarik perhatiannya, dia melemparkan uang koin di depannya. Temannya tersebut mengambil uang tersebut namun tidak menoleh ke atas, kemudian melanjutkan pekerjaannya. Teman yang di atas mengualang lagi menjatuhkan uang koin. Dia mengambilnya lagi dan melanjutkan lagi pekerjaannya, tetap tidak menoleh ke atas. Karena kesal, teman yang diatas mengambil sebuah batu kecil dan menjatuhkan tepat di atas kepala temannya itu dan barulah menoleh ke arah jatuhnya batu tersebut.

Tuhan kerap memberikan kita 'code' kepada kita agar menoleh panggilannya. Kode tersebut kadang berbentuk uang koin atau batu kecil. Bisa jadi berbentuk kebahagiaan atau sebaliknya, berbentuk kepedihan.


Teman yang dibawah tadi ketika dijatuhkan uang koin dia tidak menoleh ke atas bahkan seolah acuh dari mana jatuhnya uang tersebut. Barulah dia menoleh keatas saat yang jatuh dan bahkan mengenai kepalanya sebuah batu.


Jangan sampai kita baru meminta kepadanya saat kita ditimpa kesulitan.

(Sebuah renungan dari Salam FM 107.2 Batam, radio dakwah dan informasi)

Minggu, 03 Februari 2008

Lentera














Aku melangkahkan kaki menuju Taman Niaga Batam. Jarak tempat ini lumayan jauh, katanya sekitar 17 km dari tempat tinggalku, dengan angkot sekitar setengah jam. Aku merasa dari Makassar-Maros kalau di Sulsel. Malam itu (kemarin) ada tatsqif rutin yang dilaksanakan oleh DPD Batam. Di salah satu penggalan materi sang ustad menyelipkan sebuah hikmah yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Catatan ini hasil daur ulang dari penyimakan saya malam itu. Malam aku diterangi lentera yang indah.

Dikisahkan ada seorang pemuda berjalan di sekitar rumah penduduk di sebuah negeri. Secara tidak sengaja dia melihat seorang wanita yang sedang mandi dan dia melihat tubuh wanita tersebut. Belum sempat dia berfikir untuk menikmati, spontan dia dilanda ketakutan.

Ketakutan karena apa?

Setelah itu dia kabur meninggalkan daerah tersebut, menghilang dan menyendiri di sebuah tempat. Konon dia mengasingkan diri di sana selama lebih dari sebulan hingga akhirnya seseorang yang terkemuka di negeri tersebut menyadari kehilangannya dari tengah-tengah masyarakat dan meminta untuk mencarinya.

Orang terkemuka tersebut menyuruh untuk mengetahui keberadaannya dan mengharapkan untuk bertemu dengan pemuda tersebut.

Sang pemuda tinggal di sebuah bukit yang berada sangat jauh dari negeri yang ia tinggalkan. Ketika dicari dengan menyebutkan ciri-ciri pemuda tersebut, seorang penduduk mengethui tempat tinggal pemuda tersebut.

Saat akhirnya pemuda tersebut ditemukan dan dikabarkan dia dicari oleh seorang terkemuka di negerinya, dia menjadi begitu ketakutan. Dia dibawa bertemu dan ketika dia bertemu ketakutannya memuncak dan akhirnya jatuh pingsan. Setelah siuman dia jatuh sakit lagi selama beberapa hari.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan pemuda tersebut. Siapakah dia dan siapa orang terkemuka yang mencarinya itu?

Ini cerita lengkapnya yang saya dapat dari kecanggihan 'om Google'.

Seorang pemuda dari kaum Ansar yang bernama Tsa'labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah s.a.w. Suatu ketika Rasulullah s.a.w. mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melalui rumah salah seorang dari Ansar, maka terlihat dirinya seorang wanita Ansar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah s.a.w. menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur. Dia menuju ke sebuah gunung yang berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya.

Selama empat puluh hari Rasulullah s.a.w. kehilangan dia. Lalu Jibril a.s. turun kepada Nabi s.a.w. dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, "Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.""Maka Nabi s.a.w. berkata, "Wahai Umar dan Salman! Pergilah cari Tsa'laba bin Aburrahman, lalu bawa kemari." Keduanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah.


Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah. Umar bertanya kepadanya, "Apakah engkau tahu seorang pemuda di antra perbukitan ini?" Penggembala itu menjawab, "Jangan-jangan yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?" "Bagaimana engkau tahu bahawa dia lari dari neraka Jahanam?" tanya Umar. Dzaufafah menjawab, "Kerana, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan!" "Ya, dialah yang kami maksud," tegas Umar.


Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Wahai, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!" Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?" "Aku tidak tahu, yang jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu." Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan sholat"Ketika mereka menemukan Rasulullah s.a.w. tengah melakukan sholat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa'laba mendengar bacaan Nabi saw, dia tersungkur pingsan. Setelah Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, "Wahai Umar! Salman! Apakah yang telah kau lakukan Tsa'labah?" Keduanya menjawab, "Ini dia, wahai Rasulullah saw!"


Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa'labah yang membuatnya tersedar. Rasulullah s.a.w. berkata kepadanya, "Mengapa engkau menghilang dariku?" Tsa'labah menjawab, "Dosaku, ya Rasulullah!" Beliau mengatakan, "Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?" "Benar, wahai Rasulullah." Rasulullah s.a.w. bersabda, "Katakan・Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka." (QS Al-Baqarah:201)Tsa'labah berkata, "Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar." Beliau bersabda,"Akan tetapi kalamullah lebih besar." Kemudian Rasulullah menyusul agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama lapan hari. Mendengar Tsa'labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah s.a.w. lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa'labah? Dia sekarang sedang sakit keras."

Maka Rasulullah s.a.w. datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa'labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa'labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau."Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?" tanya Rasulullah s.a.w. "Kerana penuh dengan dosa." Jawabnya Beliau bertanya lagi, "Bagaimana yang engkau rasakan?" "Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku." Jawab Tsa'labah. Beliau bertanya, "Apa yang kau inginkan?" "Ampunan Tuhanku." Jawabnya.Maka turunlah Jibril as. dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, "Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula."


Maka segera Rasulullah s.a.w. memberitahukan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa'labah dan langsung ia meninggal.Lalu Rasulullah s.a.w. memerintahkan agar Tsa'labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai disholatkan, Rasulullah s.a.w. berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat." Beliau bersabda, "Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Kerana, banyaknya malaikat yang turut menziarahi Tsa'labah."

(copy dari heekmah.blogspot.com)

Aku malu kepada Tsa'labah
Aku malu pada-Nya
Atas besarnya imannya kepada Allah
Atas sikap khaufnya kepada Allah
marhaban

(Usai tatsqif di DPD Batam malam itu)

BERQURBAN SEBAGAI BUKTI KETAATAN

Setiap kebaikan sejatinya bisa dilaksanakan kapan saja. Namun berqurban di hari Idul Adha (dan tiga hari setelahnya) adalah momentum istim...