Minggu, 20 April 2008

Baraqallah untuk teman












 

Taman itu tlah berbunga
Mekar dalam ceria
Dan matahari tak lagi sendiri

Kabar gembira datang dari bergabagi penjuru. Beberapa teman akhirnya mengakhiri dan segera mengakhiri kesendirian mereka dalam rindu. Satu kata indah untuk antum/ antunna. "Baraqallahu laka wabaraka alaika wajama'a bainakuma fi khairi".

Selamat buat teman-teman yang melangsungkan pernikahan dan akan segera menempuh hidup baru. Semoga keberkahan menyertai dalam perjalanan dan perjuangan bianaul usrah al-muslim.

Muhammad Nur ST & Nurmita SSi (Samarinda)
Agus Purwanto SH & dr. Yusmalina Sari (Batam)
Rusdi ST & Ita Handayani S.Kep.Ners (Sulsel)

Minggu, 06 April 2008

Cinta bertasbih
















Ini buku jilid kedua Ketika Cinta Bertasbih (KCB) karya Kang Abik setelah sukses di jilid pertamanya. Sebelumnya juga tentunya dengan novel Ayat-ayat Cinta yang disusul dalam versi layar lebarnya yang sukses ditonton 3 juta orang. Sebenarnya novelini sudah lama terbitnya namun baru sempat membaca lagi karya Kang Abik ini, selain untuk menemani libur di hari Minggu yang begitu terasa indah dan sejuk ini usai sepekan bergelut dengan suasana galangan yang tidak hijau.

Jilid kedua ini merupakan kelanjutan jilid pertama kisah sang tokoh utama, Khairul Azzam. Dikisahkan Azzam telah kembali ke Indonesia setelah selama 9 tahun kuliah sambil kerja di Mesir.

Dari segi keistimewaan, saya mengakui kang Abik berhasil, antara lain:
1. Bahasanya ringan.
2. Alur cerita dan maksud penulis sangat mudah dicerna oleh siapa saja, bahkan semua level pendidikan.
3. Mengangkat nuansa religi yang jauh dari kesan keras atau kaku.
4. Mengangkat sisi sosial masayarakt yang hendak dikritik oleh penulis dalam bentuk cerita. Tentang nilai cinta sesungguhnya, bagaimana pergaulan pria/wanita dalam menuju jenjang pernikahan, takhayul dan adat. Dan saya kira itu cukup berhasil.

Ada beberapa telaahan juga buat KCB, antara lain:
1. Karakter beberapa tokoh terkesan ingin ditampilkan baik semua. Terasa datar, seolah berusaha mengindentikkan tokoh itu baik dan sempurna. Terkesan kurang alami. Misalnya saat tokoh paman Zuhrah tiba-tiba berubah sikapnya kepada Zuhrah dalam waktu sekejap ketika mengetahui latarbelakang perilaku keponakannya.
2. Di beberapa bagian terdapat dialog yang terkesan sebuah teks panjang yang dipindahkan, seperti ketika Husna menjelaskan tentang takhayul anak pertama dan ketiga.
3. Beberapa bagian ceritanya seolah tergambar terburu-buru dan digampangkan. Saat Azzam mulai membuka usaha bakso cinta dan tiga bulan berikutnya sudah bisa beli mobil. Saya tidak melihat nilai perjuangan 'berdarah-darahnya'.

Satu ketegangan yang begitu mengesankan saya yaitu ketika Furqan mengutarakan sebuah keterusteranagan kepada Anna, sebuah kenyataan yang menyakitkan bagi Anna dan Anna tidak bisa menerima itu. Furqan juga memperlihatkan jiwa manusiawinya. Saya kira konflik seperti ini yang jarang dalam KCB. Kehadiran konflik pada bagian ini saya kira menjadi panawarnya.

Btw, novel ini berhasil menanamkan kepada pembaca bahwa tokoh-tokoh dalam KCB patut dicontoh dalam sisi kecintaan mereka pada ilmu agama dan menjaga moral. Patut dibaca untuk menjadi inspirasi, utamanya teman-temanku yang hendak nikah :)

Ada apresiasi KCB 2 yang lain?

Selasa, 01 April 2008

Kuatkan jiwa












 

Intanshurullaha yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum.

Ada dorongan kuat untuk mengeja di hati kalimat itu berkali-kali.
Ingin mengalahkan kelemahan jiwa dan kerdilnya tenaga.
Kuatnya jiwa karena ujian. Akankah kita akan lulus dari pintu itu?
Semoga.

Rabu, 26 Maret 2008

Terik kehidupan










Rasa perih menimpa kulit ketika panas terik membakar. Panas dari segala sisi, kiri-kanan-atas-bawah. Ingin rasanya segera berteduh menyejukkan pori-pori kulit yang makin gelap. Hampir patah arang jika tak ada awan putih yang menaungi. Kata temanku, life is stragle men, hidup adalah perjuangan, .

Terdengar sayup lagu garang 'We are the champions' dari speaker bus saat pulang. Kampus Merah terbayang sepintas. Ah...

Jumat, 21 Maret 2008

Negeri pantun


Taman bunga ditanah lapang

Hinggap belalang di tempat rendah
Baru guna jika hati tenang
Tetap berjuang walau pelepah

Buah nangka buah kedondong
Tepuk tangan dong.

Wuih... susah juga buat pantun ya.
Baru aku sadari dengan nyata bahwa aku berada di negeri Melayu. Ciri khas yang kemarin aku menyaksikan kebiasaan membuka pidato dengan berpantun.

Kemarin, aku mendengar pantun lagi, di sebuah forum resmi. Pulau Buluh, pulau yang konon menjadi cikal menyebarnya masyarakat melayu ke Batam yang kini telah menjadi ramai. Untuk sampai ke pulau ini harus menyeberang dengan sampan sekitar 20 menit.

Selasa, 18 Maret 2008

Pesan singkat sahabat









Air matanya menitik. Aku tak tahu sebabnya.

Ketika itu...
Beberapa hari belakangan ada suara-suara miring yang terdengar dari candaan teman-teman tentang aktivitas siyasi mereka. Ada yang berpandangan sepak terjang mereka terlalu agresif dan menghawatirkan kedekatan yang berlebihan dengan seorang tokoh. Mungkin yang lain mempermasalahkan, namun dia tetap yakin akan keikhlasan aktivitas itu. Yang lain mungkin menanggap terlalu jauh, namun dia tetap berusaha ikhlas.

Hari itu tiba-tiba dia terdiam dan ada titik air mata mengalir. Kami terdiam dan semua tak kuasa untuk tidak larut dalam haru itu.

Sahabat, kutahu betapa engkau cinta jalan perjuangan itu. Dan kutahu engkau saat ini masih menapak jalan itu. Dan hari ini aku betul-betul yakin.

(1 message received)
Berlari menuju Allah dengan bekal takwa dan amal ukhrawi serta sabar berjihad karena Allah...Semua bekal terancam musnah kecuali takwa, kebajikan dan petujuk..Tetap semangat akhi!
(Andu)

Semoga kita bisa jumpa lagi, menguatkan persaudaraan kita lagi.
Uhibbukum fillah ya akhi
Abdul Rahim Farisi fii Kendari...

Sabtu, 15 Maret 2008

Yang tak sempat terucap












Terngiang syair sebuah nasyid.....


Untukmu Teman

Brothers

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi

Ketika kau menghulurkan tanganmu

Membawaku ke daerah yang baru

Dan hidupku kini ceria
Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ingatanku

Kepadamu teman

Agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu

Kenangan bersamamu

Takkanku lupa

Walau badai datang melanda

Walau bercerai jasad dan nyawa
Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan

Mungkinkah menguji kesetiaan

Kejujuran dan kemanisan iman

Tuhan berikan daku kekuatan


Mungkin amat terlambat, namun tak apalah.
Kemarin tak sempat mengucap terima kasih dengan lengkap kepada semua teman-teman 'luar biasa' yang mewarnai hari dalam nuansa anak muda yang berusaha menghidupkan ghirohnya. Sekali lagi, terima kasih kawan, guru/mr/asatiz, saya belajar dari semangat antum/antunna semua.

Selasa, 11 Maret 2008

Terkenang lagi












Entah kenapa tiba-tiba dua hari ini beberapa momen mempertemukanku untuk mengingat orang tuaku. Kemarin bertemu daun ubi dan mengingatkan Ibu. Hari sebuah momen tidak bisa tidak membawaku untuk mengingat Ayah.

Ketika berkunjung ke rumah tema, aku tertarik dengan sebuah buku yang berjudul 'Cinta di rumah Hasan al-Banna'. Saya minta izin untuk meminjamnya. Selama perjalanan pergi dan pulang di atas bis kantor, saya membaca dengan sangat hikmat hingga tak terasa hampir habis.

Buku ini berkisah tentang bagaiman seorang tokoh pergerakan dunia Islam, Hasan al-Banna mendidik putra-putrinya. Tak bisa saya bayangkan, dia yang tentu begitu banyak beraktivitas dalam aktivitas pergerakan berskala dunia masih memiliki waktu yang indah untuk anak-anak dan keluarganya. Dia berhasil mendidik umat dan suksek mendidik keluarganya dalam waktu yang hampir bersamaan.

Selama menikmati karya M. Lili Nur Aulia ini, ada sebersit suka cita. Rasanya kepingan-kepingan nuansa cinta itu pernah hadir dalam rumahku, walau tak sama persis. Namun saya begitu bersyukur menjadi anak dari seorang bapak dan kurasakan betapa aku telah dididiknya dan terasa hingga hari ini.

"Ayah, andai kelak aku bisa menjadi sosok ayah seperti Hasan al-Banna. Atau minimal nuansa apa yang kau didikkan kepada kami dulu, ayah, bisa kuhadirkan pula kelak. Kelak dirumah cinta."

Daun ubi dan Ibu










Sepulang dari kerja dan mampir shalat magrib, saya mampir makan di rumah makan padang yang banyak bertebaran di kota ini. Setelah makanan tersaji di atas meja mata saya tertuju ke sayur berwarna hijau yang sudah berubah warna karena pasti terebus air panas. Daun ubi.

Sejenak aku terdiam dan langsung mengingat Ibu. Sayur daun ubi/ singkong itu mengingatkanku padanya. Sejak kecil bahkan setelah berpisah karena kuliah di kota, sayur itu kerap dibuatkan dengan sengaja olehnya karena tahu aku kerap mencari masakan itu.

Wajah ibu hadir di depanku. Seolah ia berjalan membawakan segelas air ke arahku. Ingatan akan ibu yang jauh di seberang pulau Celebes makin kuat. Mengingat guratan wajahnya dan tangannya yang tak pernah berkata lelah. Itulah mungkin yang meyakinkan kami anak-anaknya betapa dia menyayangi kami.

"Daun ubi itu mengingatkanku padamu, Ibu. Tapi rasanya tak seenak masakan ibu." Tiba-tiba mataku berkaca-kaca.

Minggu, 24 Februari 2008

OT...













OT (baca oti) adalah singkatan dari over time.
Kata yang memikat untuk menebalkan finansial.
Apa lagi di hari minggu.
Allowance dikali berlipat.

Tapi kadang aku merasa begitu materialistis hanya untuk sebuah 'oti'
dan menghabiskan hari di lingkungan yang sama,
masuk kerja hari ini, hari Ahad.

(Ada sms dari kawan, jadi kapan waktu untuk dakwah?)
Malulah engkau...

BERQURBAN SEBAGAI BUKTI KETAATAN

Setiap kebaikan sejatinya bisa dilaksanakan kapan saja. Namun berqurban di hari Idul Adha (dan tiga hari setelahnya) adalah momentum istim...