Jumat, 21 Maret 2008

Negeri pantun


Taman bunga ditanah lapang

Hinggap belalang di tempat rendah
Baru guna jika hati tenang
Tetap berjuang walau pelepah

Buah nangka buah kedondong
Tepuk tangan dong.

Wuih... susah juga buat pantun ya.
Baru aku sadari dengan nyata bahwa aku berada di negeri Melayu. Ciri khas yang kemarin aku menyaksikan kebiasaan membuka pidato dengan berpantun.

Kemarin, aku mendengar pantun lagi, di sebuah forum resmi. Pulau Buluh, pulau yang konon menjadi cikal menyebarnya masyarakat melayu ke Batam yang kini telah menjadi ramai. Untuk sampai ke pulau ini harus menyeberang dengan sampan sekitar 20 menit.

Selasa, 18 Maret 2008

Pesan singkat sahabat









Air matanya menitik. Aku tak tahu sebabnya.

Ketika itu...
Beberapa hari belakangan ada suara-suara miring yang terdengar dari candaan teman-teman tentang aktivitas siyasi mereka. Ada yang berpandangan sepak terjang mereka terlalu agresif dan menghawatirkan kedekatan yang berlebihan dengan seorang tokoh. Mungkin yang lain mempermasalahkan, namun dia tetap yakin akan keikhlasan aktivitas itu. Yang lain mungkin menanggap terlalu jauh, namun dia tetap berusaha ikhlas.

Hari itu tiba-tiba dia terdiam dan ada titik air mata mengalir. Kami terdiam dan semua tak kuasa untuk tidak larut dalam haru itu.

Sahabat, kutahu betapa engkau cinta jalan perjuangan itu. Dan kutahu engkau saat ini masih menapak jalan itu. Dan hari ini aku betul-betul yakin.

(1 message received)
Berlari menuju Allah dengan bekal takwa dan amal ukhrawi serta sabar berjihad karena Allah...Semua bekal terancam musnah kecuali takwa, kebajikan dan petujuk..Tetap semangat akhi!
(Andu)

Semoga kita bisa jumpa lagi, menguatkan persaudaraan kita lagi.
Uhibbukum fillah ya akhi
Abdul Rahim Farisi fii Kendari...

Sabtu, 15 Maret 2008

Yang tak sempat terucap












Terngiang syair sebuah nasyid.....


Untukmu Teman

Brothers

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi

Ketika kau menghulurkan tanganmu

Membawaku ke daerah yang baru

Dan hidupku kini ceria
Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ingatanku

Kepadamu teman

Agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu

Kenangan bersamamu

Takkanku lupa

Walau badai datang melanda

Walau bercerai jasad dan nyawa
Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan

Mungkinkah menguji kesetiaan

Kejujuran dan kemanisan iman

Tuhan berikan daku kekuatan


Mungkin amat terlambat, namun tak apalah.
Kemarin tak sempat mengucap terima kasih dengan lengkap kepada semua teman-teman 'luar biasa' yang mewarnai hari dalam nuansa anak muda yang berusaha menghidupkan ghirohnya. Sekali lagi, terima kasih kawan, guru/mr/asatiz, saya belajar dari semangat antum/antunna semua.

Selasa, 11 Maret 2008

Terkenang lagi












Entah kenapa tiba-tiba dua hari ini beberapa momen mempertemukanku untuk mengingat orang tuaku. Kemarin bertemu daun ubi dan mengingatkan Ibu. Hari sebuah momen tidak bisa tidak membawaku untuk mengingat Ayah.

Ketika berkunjung ke rumah tema, aku tertarik dengan sebuah buku yang berjudul 'Cinta di rumah Hasan al-Banna'. Saya minta izin untuk meminjamnya. Selama perjalanan pergi dan pulang di atas bis kantor, saya membaca dengan sangat hikmat hingga tak terasa hampir habis.

Buku ini berkisah tentang bagaiman seorang tokoh pergerakan dunia Islam, Hasan al-Banna mendidik putra-putrinya. Tak bisa saya bayangkan, dia yang tentu begitu banyak beraktivitas dalam aktivitas pergerakan berskala dunia masih memiliki waktu yang indah untuk anak-anak dan keluarganya. Dia berhasil mendidik umat dan suksek mendidik keluarganya dalam waktu yang hampir bersamaan.

Selama menikmati karya M. Lili Nur Aulia ini, ada sebersit suka cita. Rasanya kepingan-kepingan nuansa cinta itu pernah hadir dalam rumahku, walau tak sama persis. Namun saya begitu bersyukur menjadi anak dari seorang bapak dan kurasakan betapa aku telah dididiknya dan terasa hingga hari ini.

"Ayah, andai kelak aku bisa menjadi sosok ayah seperti Hasan al-Banna. Atau minimal nuansa apa yang kau didikkan kepada kami dulu, ayah, bisa kuhadirkan pula kelak. Kelak dirumah cinta."

Daun ubi dan Ibu










Sepulang dari kerja dan mampir shalat magrib, saya mampir makan di rumah makan padang yang banyak bertebaran di kota ini. Setelah makanan tersaji di atas meja mata saya tertuju ke sayur berwarna hijau yang sudah berubah warna karena pasti terebus air panas. Daun ubi.

Sejenak aku terdiam dan langsung mengingat Ibu. Sayur daun ubi/ singkong itu mengingatkanku padanya. Sejak kecil bahkan setelah berpisah karena kuliah di kota, sayur itu kerap dibuatkan dengan sengaja olehnya karena tahu aku kerap mencari masakan itu.

Wajah ibu hadir di depanku. Seolah ia berjalan membawakan segelas air ke arahku. Ingatan akan ibu yang jauh di seberang pulau Celebes makin kuat. Mengingat guratan wajahnya dan tangannya yang tak pernah berkata lelah. Itulah mungkin yang meyakinkan kami anak-anaknya betapa dia menyayangi kami.

"Daun ubi itu mengingatkanku padamu, Ibu. Tapi rasanya tak seenak masakan ibu." Tiba-tiba mataku berkaca-kaca.

Minggu, 24 Februari 2008

OT...













OT (baca oti) adalah singkatan dari over time.
Kata yang memikat untuk menebalkan finansial.
Apa lagi di hari minggu.
Allowance dikali berlipat.

Tapi kadang aku merasa begitu materialistis hanya untuk sebuah 'oti'
dan menghabiskan hari di lingkungan yang sama,
masuk kerja hari ini, hari Ahad.

(Ada sms dari kawan, jadi kapan waktu untuk dakwah?)
Malulah engkau...

Virus...














Tulisan dua bulan lalu (29 Desember 2007)

Keinginan yang tak terkontrol ada kalanya disebabkan oleh kurangnya kekuatan untuk membendung hasrat untuk melakukan sebuah tindakan. Namun keinginan akan menjadi emosi ketika tidak terpuaskan. Pada akhirnya akan menjadi bayang-bayang yang selalu ingin dipenuhi. Tiba-tiba teori ini meluncur dari fikiranku, entah dari mana dasarnya. Ini kusebut virus keinginan.

Sebulan terakhir ini 'virus keinginan' kurasakan menyerang ulu hatiku. Keinginan yang tak terkendali dan ditunjang dengan daya dukung yang lagi memadai. Saya diserang virus yang membutku kemaruk beli buku. Ingin membeli buku sebanyak-banyaknya. Seolah ingin memindahkan isi toko buku ke kamarku. Virus yang kemudian merusak sendi-sendi pertahanan finansialku dan merusak kontrol pengeluaranku yang terbilang cukup parah dibanding sebelum-sebelumya.

Beberapa kali aku keluar masuk toko buku di kota Makassar ini. Buku-buku itu memaksa tanganku untuk meraihnya. Dan hampir setiap masuk ke sebuah toko buku selalu saja virus kemaruk itu datang dan berakhir di meja kasir. Setelah kuhitung-hitung ternyata banyak juga, ada sekitar 600-an untuk beli buku. Kaget aku.

Setelah itu kini saatnya mengurung diri. (Dont disturb!)

(Klo membaca catatan ini untuk saat ini, jadi kangen lagi memiliki waktu yang nikmat untuk menghabiskan hari dengan setumpuk buku. Bulan ini hanya sempat beli Tarbawi, namun kali ini majalah ini betul-betul serasa air yang begitu sejuk.)

Minggu, 17 Februari 2008

Tunas...

Bagai ikan mendapat kolamnya
Kubertemu lagi wajah-wajah itu
Yang dulu pernah kugeluti
Wajah-wajah itu hadir lagi
Wajah penuh gairah dan harapan

Akan menjelma jadi tunas pejuang
Menyemaikan tanah keimanan
Dalam derap para (calon) mujahid muda

(Usai rihlah dengan anak' (baru) KAMMI Batam)
Kami, sekitar dua puluhan ikhwan/akhwat berangkat dari kampus Poltek (salah satu kampus besar di Batam) menuju sebuah tempat. Yang kami tuju ternyata sebuah pantai bernama Tanjung Pinggir, di daerah Sekupang, ujung Selatan pulau batam. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan Busway (ada Busway juga rupanya disini) tibalah kami.

Suasana sejuk dengan angin berhembus syahdu dari laut ditambah pasir putih yang indah. Dan dari kejauhan nampak warna kelabu gedung-gedung pencakar langit negeri tetangga, Singapura. Kami menyusuri pasirnya yang putih lembut, hingga bermain bola, mandi di laut setelah dipaksa. Judul hari ini sebenarnya adalah 'lepaskan lelahmu' (minimal buat saya setelah puyeng bertemu sepanjang hari dengan bangunan kapal).

Acara yang dinanti adalah makan siang tentunya. Usai dhuhur dilanjutkan briefing/ sharing dengan tunas-tunas KAMMI Batam ini yang katanya tergolong masih baru. DM 1 pertama mereka baru sekitar 3 bulan yang lalu. Kami menjadi 'penasehat dadakan' di forum ini.
Thank to Akh Agus, Ikram & Tawa yang mengajak melihat sisi indah lain kota Batam.

Minggu, 10 Februari 2008

Menolehlah ...









Di bawah bayang bangunan double bottom dan cuaca yang terik terdengar merdu di earphone-ku sebuah suara:

Seseorang memanggil temannya yang sedang berada di bawah. Karena suara bising mesin dan peralatan kerja, panggilan itu tidak didengar. Untuk menarik perhatiannya, dia melemparkan uang koin di depannya. Temannya tersebut mengambil uang tersebut namun tidak menoleh ke atas, kemudian melanjutkan pekerjaannya. Teman yang di atas mengualang lagi menjatuhkan uang koin. Dia mengambilnya lagi dan melanjutkan lagi pekerjaannya, tetap tidak menoleh ke atas. Karena kesal, teman yang diatas mengambil sebuah batu kecil dan menjatuhkan tepat di atas kepala temannya itu dan barulah menoleh ke arah jatuhnya batu tersebut.

Tuhan kerap memberikan kita 'code' kepada kita agar menoleh panggilannya. Kode tersebut kadang berbentuk uang koin atau batu kecil. Bisa jadi berbentuk kebahagiaan atau sebaliknya, berbentuk kepedihan.


Teman yang dibawah tadi ketika dijatuhkan uang koin dia tidak menoleh ke atas bahkan seolah acuh dari mana jatuhnya uang tersebut. Barulah dia menoleh keatas saat yang jatuh dan bahkan mengenai kepalanya sebuah batu.


Jangan sampai kita baru meminta kepadanya saat kita ditimpa kesulitan.

(Sebuah renungan dari Salam FM 107.2 Batam, radio dakwah dan informasi)

Minggu, 03 Februari 2008

Lentera














Aku melangkahkan kaki menuju Taman Niaga Batam. Jarak tempat ini lumayan jauh, katanya sekitar 17 km dari tempat tinggalku, dengan angkot sekitar setengah jam. Aku merasa dari Makassar-Maros kalau di Sulsel. Malam itu (kemarin) ada tatsqif rutin yang dilaksanakan oleh DPD Batam. Di salah satu penggalan materi sang ustad menyelipkan sebuah hikmah yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Catatan ini hasil daur ulang dari penyimakan saya malam itu. Malam aku diterangi lentera yang indah.

Dikisahkan ada seorang pemuda berjalan di sekitar rumah penduduk di sebuah negeri. Secara tidak sengaja dia melihat seorang wanita yang sedang mandi dan dia melihat tubuh wanita tersebut. Belum sempat dia berfikir untuk menikmati, spontan dia dilanda ketakutan.

Ketakutan karena apa?

Setelah itu dia kabur meninggalkan daerah tersebut, menghilang dan menyendiri di sebuah tempat. Konon dia mengasingkan diri di sana selama lebih dari sebulan hingga akhirnya seseorang yang terkemuka di negeri tersebut menyadari kehilangannya dari tengah-tengah masyarakat dan meminta untuk mencarinya.

Orang terkemuka tersebut menyuruh untuk mengetahui keberadaannya dan mengharapkan untuk bertemu dengan pemuda tersebut.

Sang pemuda tinggal di sebuah bukit yang berada sangat jauh dari negeri yang ia tinggalkan. Ketika dicari dengan menyebutkan ciri-ciri pemuda tersebut, seorang penduduk mengethui tempat tinggal pemuda tersebut.

Saat akhirnya pemuda tersebut ditemukan dan dikabarkan dia dicari oleh seorang terkemuka di negerinya, dia menjadi begitu ketakutan. Dia dibawa bertemu dan ketika dia bertemu ketakutannya memuncak dan akhirnya jatuh pingsan. Setelah siuman dia jatuh sakit lagi selama beberapa hari.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan pemuda tersebut. Siapakah dia dan siapa orang terkemuka yang mencarinya itu?

Ini cerita lengkapnya yang saya dapat dari kecanggihan 'om Google'.

Seorang pemuda dari kaum Ansar yang bernama Tsa'labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah s.a.w. Suatu ketika Rasulullah s.a.w. mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melalui rumah salah seorang dari Ansar, maka terlihat dirinya seorang wanita Ansar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah s.a.w. menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur. Dia menuju ke sebuah gunung yang berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya.

Selama empat puluh hari Rasulullah s.a.w. kehilangan dia. Lalu Jibril a.s. turun kepada Nabi s.a.w. dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, "Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.""Maka Nabi s.a.w. berkata, "Wahai Umar dan Salman! Pergilah cari Tsa'laba bin Aburrahman, lalu bawa kemari." Keduanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah.


Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah. Umar bertanya kepadanya, "Apakah engkau tahu seorang pemuda di antra perbukitan ini?" Penggembala itu menjawab, "Jangan-jangan yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?" "Bagaimana engkau tahu bahawa dia lari dari neraka Jahanam?" tanya Umar. Dzaufafah menjawab, "Kerana, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan!" "Ya, dialah yang kami maksud," tegas Umar.


Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Wahai, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!" Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?" "Aku tidak tahu, yang jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu." Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan sholat"Ketika mereka menemukan Rasulullah s.a.w. tengah melakukan sholat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa'laba mendengar bacaan Nabi saw, dia tersungkur pingsan. Setelah Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, "Wahai Umar! Salman! Apakah yang telah kau lakukan Tsa'labah?" Keduanya menjawab, "Ini dia, wahai Rasulullah saw!"


Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa'labah yang membuatnya tersedar. Rasulullah s.a.w. berkata kepadanya, "Mengapa engkau menghilang dariku?" Tsa'labah menjawab, "Dosaku, ya Rasulullah!" Beliau mengatakan, "Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?" "Benar, wahai Rasulullah." Rasulullah s.a.w. bersabda, "Katakan・Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka." (QS Al-Baqarah:201)Tsa'labah berkata, "Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar." Beliau bersabda,"Akan tetapi kalamullah lebih besar." Kemudian Rasulullah menyusul agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama lapan hari. Mendengar Tsa'labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah s.a.w. lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa'labah? Dia sekarang sedang sakit keras."

Maka Rasulullah s.a.w. datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa'labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa'labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau."Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?" tanya Rasulullah s.a.w. "Kerana penuh dengan dosa." Jawabnya Beliau bertanya lagi, "Bagaimana yang engkau rasakan?" "Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku." Jawab Tsa'labah. Beliau bertanya, "Apa yang kau inginkan?" "Ampunan Tuhanku." Jawabnya.Maka turunlah Jibril as. dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, "Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula."


Maka segera Rasulullah s.a.w. memberitahukan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa'labah dan langsung ia meninggal.Lalu Rasulullah s.a.w. memerintahkan agar Tsa'labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai disholatkan, Rasulullah s.a.w. berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat." Beliau bersabda, "Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Kerana, banyaknya malaikat yang turut menziarahi Tsa'labah."

(copy dari heekmah.blogspot.com)

Aku malu kepada Tsa'labah
Aku malu pada-Nya
Atas besarnya imannya kepada Allah
Atas sikap khaufnya kepada Allah
marhaban

(Usai tatsqif di DPD Batam malam itu)

BERQURBAN SEBAGAI BUKTI KETAATAN

Setiap kebaikan sejatinya bisa dilaksanakan kapan saja. Namun berqurban di hari Idul Adha (dan tiga hari setelahnya) adalah momentum istim...