About

Monday, November 12, 2012

Al Kahfi dan Pertarungan Ideologi

Pagi ini saya tergerak untuk menelaah surah Al-Kahfi usai membaca fadhilahnya dibaca di hari Jumat. Penggalan di bawah ini menginspirasi saya membuat catatan ini.

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, "Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (QS. Alkahfi:10)

Saya berusaha mencari tahu kenapa sih kisah Ashabul Kahfi diabadikan di dalam Al-Qur'an. 

Karena kisah mereka tercantum dalam Al-Quran, tentunya akan selalu dibaca dan akan abadi. Apa yang terdokumentasi didalamnya juga akan ikut abadi. Setiap generasi takkan putus mata rantai pengenalannya tentang kisah tujuh pemuda tersebut.

Setelah membuka lagi Tafsir Ibnu Katsir, saya membaca dan menemukan sebuah perjalanan yang dramatis.

Mereka ternyata adalah sekelompok anak muda yang hidup jauh sebelum masa Nabi Isa a.s. Kaum Yahudi bahkan sangat memahami cerita mereka. Berarti ini adalah kisah yang terjadi ribuan abad yang silam.

Tidak sedikit ulama salaf dan khalaf yang menceritakan bahwa kaum muda itu adalah anak raja dan bangsawan Romawi. Jika mendengar kata romawi, yang saya bayangkan adalah sebuah kekaisaran jaman dulu dengan kota yang megah, pertempuran gladiator yang keji, dan tentara perkasa yang ribuah jumlahnya.

Dikisahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, suatu hari tatkala orang-orang pergi untuk merayakan hari raya, kaum muda itu pun pergi bersama ayah dan kaumnya. Mereka melihat kaumnya bersujud dan menyembelih bukan atas nama Allah Ta'ala. Sementara, pemuda-pemuda itu sudah mengetahui bahwa penyembelihan tidak layak dilakukan kecuali atas nama Allah.

Masing-masing pemuda kemudian memisahkan diri dari keramaian itu. Pemuda pertama memisahkan diri lalu duduk di bawah pohon. Kemudian bergabung lagi pemuda berikutnya, lalu berikutnya dan berikutnya. Satu persatu hingga berkumpul tujuh pemuda. Menariknya, diantara pemuda itu, tidak saling mengenal satu sama lain.

Apa yang ada di pikiran mereka? Kenapa mereka tergerak untuk bergerak menuju pohon yang sama? Apa yang mempersatukan mereka? 

Mungkin mereka berpikir keras dari apa yang mereka lihat sebelumnya. Mungkin mereka berpikir, apakah saya yang bodoh atau mereka yang bodoh. Melakukan ritual yang tidak sesuai dengan nalar mereka.

Saya mengutip hadits yang dihadirkan Ibnu Katsir, salah satu alasan mereka disatukan:
"Ruh-ruh itu ibarat bala tentara, apabila saling mengenal, maka akan rukun. Dan apabila tidak saling mengenal, maka akan berselisih." (HR. Bukhari-Muslim)

Yang mempersatukan mereka di sana ialah Zat yang mempersatukan hati mereka dalam keimanan. Yang menyusun skenario itu adalah Allah.

Dikisahkan kembali, setiap pemuda menyembunyikan isi hatinya terhadap yang lain lantara takut. Mereka masing-masing tidak mengetahui bahwa mereka memiliki satu keyakinan. Hingga salah satunya bertanya tentang alasan mereka hadir ke tempat itu. Dan ternyata mereka semua memiliki alasan yang senada.

Dari pertemuan istimewa tersebut, mereka bersepakat melakukan tindak lanjut. Singkat cerita mereka kemudian membuat tempat ibadah tersendiri. Beberapa masa kemudian, aktivitas mereka diketahui oleh Raja dari laporan kaumnya. Mereka lalu diminta dihadirkan di depan Raja, diinvestigasi. Karena mereka tak bergeming dari keyakinan mereka akhirnya mereka diancam jika tidak kembali kepada agama kaumnya.

Dalam masa ancaman itu Raja memberikan kesempatan untuk 'bertaubat' lagi. Disinilah dimulai ide mereka untuk mencari cara mempertahankan iman mereka. Mereka memutuskan melarikan diri. Mereka menuju ke sebuah gua. Raja lalu mencari mereka. Dan kemudian Allah pun melenyapkan ihwal mereka dalam gua tersebut. Tujuh pemuda hilang entah kemana. 

Skenario Allah memang sungguh luar biasa. Diluar logika pada umumnya. Mereka ternyata ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua tersebut.  

Pertarungan ideologi. Ya, kalimat ini yang muncul di benak saya usai membaca kisah mereka. Mereka melakukan lompatan pikiran yang tidak lazim ditengah-tengan keyakinan orang banyak. Mereka berani meninggalkan kondisi umum yang sudah mendarah-daging dalam masyarakat mereka. Dan berikutnya mereka teguh mempertahankan apa yang mereka yakini.

Kisah menghilangnya ketujuh pemuda itu kemudian menjadi buah bibir. Buah bibir yang menggemparkan. Dan kejadian itu mewabah menjadi sebuah pemicu 'berpikir ulang' kaum itu tentang kepercayaan mereka. Apakah selama ini yang kami lakukan ada yang salah? Apakah yang kami sembah bukan yang seharusnya? Kenapa anak-anak bangsawan yang hidup berkecukupan malah menentang rajanya. Itulah mungkin proses berpikir kaumnya saat itu.

Zaman berganti, kekuasaan berganti dan akhirnya keyakinan yang salah tersebut ikut berganti. Lenyapnya tujuh pemuda itu ternyata memberikan pengaruh. Pengaruh yang membawa perubahan dan mengubah segalanya. Perubahan menjadi lebih baik.  

Batam, Jumat, 9 November 2012
(Beberapa jam sebelum take-off ke Palembang)

Thursday, November 8, 2012

Deposito Kebaikan

Ketika kita membuat deposito berupa kasih sayang tanpa syarat, ketika kita hidup terutama menurut hukum kasih, kita mendorong orang lain untuk hidup terutama menurut hukum kehidupan. Dengan kata lain, ketika kita benar-benar mengasihi orang lain tanpa syarat, tanpa, tanpa ikatan, kita membantu mereka merasa terjamin dan aman dan sah dan diteguhkan dalam nilai esensial, identitas dan integritas mereka. Proses pertumbuhan yang wajar pun terdorong. Kita membuat mereka hidup lebih mudah menurut hukum kehidupan-kerja sama, disiplin diri, integritas- dan menemukan serta hidup dengan hal yang tertinggi dan terbaik dalam hidup mereka. (Covey, page. 194)   

Tuesday, November 6, 2012

Kursi geladak Titanic

Urusan cita-cita, urusan memilih jurusan saat kuliah, seingat saya orang tua kami tak pernah memilihkan apalagi memaksakan. Termasuk ketika hendak memilih calon pendamping. Kami delapan bersaudara tak satupun dengan cara menunjuk satu bintang, satu nama. Apalagi menjodohkan langsung. Orang tua hanya memberikan rumus umum. Variabelnya? terserah. Yang jelas ini rumusnya. Kalau ga masuk rumus, saya tak akan merestui, begitu deh kira-kira.

Ketika mengajukan proposal nikah (wah resmi betul nih..) calon yang diajukan syaratnya ga macam-macam. "Yang penting agamanya baik, dari keluarga baik-baik." Selebihnya, itu  terserah selera masing-masing. Mudah, yang penting masuk rumus, masuk dalam poin utama, masuk dalam kriteria pokok.

"Agamanya" adalah kalimat yang sangat penting bagi orang tua kami. Di garis itu pulalah kami dibesarkan. Kami ikut dan tersuasana dengan apa yang diharapkan oleh orang tua, terutama Bapak. "Kalau agamanya bagus, insya allah yang lain-lain akan baik juga."

Bersyukur sekali rasanya berada di koridor yang Bapak/ Ibu telah dirikan. Minimal kami anak-anaknya masih berada dalam rel yang benar.

Dari pengalaman diatas mungkin terselip inspirasi. Kepemimpinan ternyata  berkaitan juga dengan apakah keluarga terdekat terinspirasi dan ikut terpengaruh dengan apa yang dicontohkan. Semoga anggota keluarga kita terinspirasi dengan apa yg kita perbuat. Inspirasi yang akan menuntun masa depannya, dunia dan akhirat

      
Kutipan:

"Manajemen yang efisien tanpa kepemimpinan yang efektif adalah, seperti yang pernah dikatakan orang, "seperti meluruskan kursi-kursi geladak di atas Titanic." (Covey, page 92)




Apa maksudnya ya? Ga tau juga. :-) Tapi mungkin begini, kapal akan berlayar efektif kalau nahkodanya mantap, tak guna lurusin kursi-kursi dulu klo kapalnya masih miring, seperti Titanic yang lagi miring. Bisa betu, bisa salah. 

Monday, November 5, 2012

Bos tenang, anak buah senang

"Pengembangan kesempatan kinerja Menang/Menang seperti ini adalah aktivitas sentral dari manajemen. Pada saat kesempatan tercapai, karyawan dapat mengatur diri mereka sendiri dalam kerangka kesepakatan itu. Manajer pun dapat berfungsi sebagai mobil pembuka jalan dalam perlombaan. Ia dapat membuat segalanya berjalan dan kemudian menyingkir. Tugasnya sejak saat itu cuma menyingkirkan tumpahan oli". (7 Habits-Covey, page 244)

Sunday, November 4, 2012

Your Mission Complete?

 Saat kecil dulu saya punya cita-cita menjadi pilot. Kenapa? Entahlah. Saat itu membayangkan memakai seragam seperti seorang pilot tampak begitu gagah dan dihormati. Membawa pesawat dan keliling dunia terasa begitu nikmat. Bisa jalan-jalan melihat banyak negara.


Seiring bertambah usia, cita-cita ikut menguap juga. Berganti ingin menjadi arsitek. Saya suka melihat gambar-gambar kakak yang saat itu masih kuliah di jurusan arsitektur. Begitu keren dan intelek merancang bangunan-bangunan megah. Peralatan dan meja gambar menambah suasana modern dan gagah.

Kenapa cita-cita sering gonta-ganti?

"Sebuah pernyataan misi pribadi yang disadari prinsip-prinsip yang benar menjadi sejenis standar yang sama bagi individu. Pernyataan misi ini menjadi konstitusi pribadi, dasar untuk mengambil keputusan utama yang mengatur kehidupan, dasar untuk mengambil keputusan sehari-hari di tengah kondisi dan emosi yang mempengaruhi hidup kita. Pernyataan ini memberdaya individu dengan kekuatan yang sama di tengah perubahan yang terjadi." (7 Habits-Covey, page 98)

Oh.... misi pribadi.

Pernah saya (dulu... banget) punya misi pribadi, padahal masih ingusan. Misinya adalah hanya akan mempersunting seorang putri yang memakai jilbab, menutup aurat. Walau banyak yang menarik, tapi tak sesui misi. Lewat. Cie... Untuk yang satu ini, "mission complete".  :)


Saturday, November 3, 2012

Friday, November 2, 2012

Jadi Juru Komentar

"Semua bentuk organisasi - termasuk keluarga dapat menjadi proaktif. Mereka dapat menggabungkan kreatifitas dan sumber daya dari individu-individu yang proaktif untuk menciptakan budaya proaktif didalam organisasi. Organisasi tidak perlu berada dibawah kekuasaan lingkungan; organisasi dapat mengambil inisiatif untuk mencapai nilai-nilai dan tujuan-tujuan bersama dari individu-individu yang terlibat". (7 Habits-Covey, page 68)

Setiap menyalakan TV lalu memilih channel berita, seketika itu juga pikiran kita bisa terpengaruh oleh isi berita tersebut. Melihat berita tentang korupsi, berita tentang perkelahan antar kelompok, berita tentang demonstrasi. Mungkin juga berita tentang selebriti yang selalu bikin sensasi.

Sekian banyak informasi yang kita lihat, boleh jadi mempengaruhi tindakan kita. Mungkin kita mengupat para koruptor, merasa tidak aman bepergian keluar daerah, atau menambah gosip tentang acara gosip para artis.

Menurut saya yang dikhawatirkan dengan informasi yang kita tonton adalah dampaknya terhadap diri kita. Kita seolah-olah terlibat dengan masalah itu, padahal tak ada hubungannya dengan kita. Kita menjadi reaktif. Mengomentari urusan orang lain, namun tidak efektif.

Thursday, November 1, 2012

Respon bermata dua

Di pagi ini saya sempat membuka lagi buku 'Renungan Harian' 7 Habits-nya Steven R. Covey. Di halaman yang bertanggal hari ini, ada kalimat yang menarik untuk dikutip.

"Bukan apa yang orang lain perbuat atau bahkan bukan pula kesalahan kita sendiri yang paling melukai kita melainkan respon kita terhadap hal-hal itu. Mengejar ular berbisa yang baru saja mematuk kita hanya akan mendorong racun ke seluruh sistem peredaran darah kita. Jauh lebih baik untuk mengambil tindakan seketika guna mengeluarkan bisanya". (page:82)

Sering kali saya mengalami perasaan ingin marah saat berkendara di jalan. Ketika tiba-tiba ada pengendara lain yang hampir mencelakakan kita. Pernah suatu kali, ada yang tanpa memberi sinyal lampu, tiba-tiba menyerobot jalur kita. Atau saat kendaraan di depan kita tiba-tiba berhenti. Kitapun hampir menabraknya.

Segala macam kejadian yang kita alami tentu membut kita meresponnya. Saat di jalan itulah yang sering memancing emosiku. Dan ternyata, sering juga saya melihat dua orang yang hendak berkelahi gara-gara teknik berkendaranya yang hampir atau sudah saling tabrakan. Usai tabrakan itulah respon masing-masing muncul.

Kalau dah tabrakan? Bisa jadi adu jotos atau malah saling menolong.
Ada pilihan respon dari setiap kejutan.